UIT Lirboyo Kediri Hadir dalam AICIS: Merajut Fiqih Peradaban

WhatsApp Image 2023 05 04 at 11.56.31

The 22nd Annual Conference on Islamic Studies (AICIS) Tahun 2023 di Surabaya pada 2-5 Mei 2023, yang bertema: “Recontextualizing Fiqh for Equal Humanity and Sustainable Peace”. Dalam rangka membangun Fiqh Peradaban dalam bingkai kehidupan kerukunan beragama di Indonesia.
Perwakilan Universitas Islam Tribakti Lirboyo Dr. A. Jauhar Fuad turut menghadiri Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2023 yang digelar di UINSA sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (Koperyais) Wilayah IV Surabaya, dari tanggal 2 – 5 Mei 2023.
Dr. A. Jauhar Fuad hadir mengikuti pembukaan AICIS bersama seluruh Pimpinan PTKIS Kopertais yang lain yang berpusat di Gedung Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Sport Center and Multipurpose UIN Sunan Ampel Surabaya, Jl. A Yani No 117 Surabaya. (2/5/2023). AICIS tahun ini lebih kepada upaya membangun kebijakan berdasarkan fiqh peradaban.

Dirjen Pendis (pendidikan Islam) Prof. Dr. Ali Ramdhani menyatakan bahwa AICIS mengusung tema : “Recontextualising Fiqh for Equal Humanity and Sustainable peace, sebagai upaya untuk menghasilkan praktik keberagaman, khususnya keberislaman agar terus relevan dengan kebutuhan global. 3 hal penting yang diupayakan Peace, Harmony & Prosperity” terangnya saat pembukaan.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan Annual International Conference of Islamic Studies 2023 (AICIS 2023). Gubernur Khofifah menyebut, forum ini merupakan pertemuan budaya dan pemikiran untuk memperkuat tiga unsur dasar yang dibutuhkan dunia. Yaitu perdamaian, keharmonisan, dan kesejahteraan. “Peace, Harmony and Prosperity adalah tiga unsur dasar yang dibutuhkan dunia. Ada pertemuan pikiran, pertemuan budaya, dan pertemuan gagasan dalam forum strategis ini. Maka tentu akan memberikan rekomendasi strategis bagi Indonesia dan dunia,” kata Gubernur Khofifah.

Ia menyebutkan bahwa AICIS 2023 diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan terkait interpretasi fiqih Islam kontemporer, terutama bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pasalnya, seiring perkembangan zaman terdapat tantangan baru yang makin kompleks baik bagi umat Islam maupun untuk perdamaian dan harmoni intern dan antar umat beragama.

“Umat Islam di seluruh dunia menghadapi tantangan baru dan kompleks. Rekontekstualisasi fiqh kembali dikaji dengan lebih kontekstual dalam menjawab persoalan global. Pentingnya nilai-nilai Kemanusiaan dan spirit beragama harus dikaji lebih komprehensif. AICIS 2023 ini menjadi forum yang tepat untuk policy recommendation,” ujarnya.

Tak hanya sepakat dengan muatan AICIS 2023, Khofifah juga mendukung diadakannya forum tersebut dipusatkan di Jawa Timur. Hal ini karena Jatim merupakan tempat lahirnya konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Jawa Timur sebagai Bumi Majapahit adalah tempat dikenalkannya Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Yaitu ajakan untuk saling toleransi yang menyatakan bahwa meskipun berbeda-beda, kita tetaplah satu. Frasa ini diungkapkan oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma untuk menggambarkan kehidupan di zaman Majapahit ketika masyarakat beragam tetapi saling hidup berdampingan dengan damai.

“Menempatkan AICIS 2023 di Jawa Timur merupakan keputusan yang sangat tepat karena Bumi Majapahit adalah bumi yang mengenalkan konsep Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa . Ajakan untuk hidup berdampingan meski kita berbeda-beda, ajakan untuk tetap saling damai, harmonis dan mewujudkan kesejahteraan,” ujar Gubernur Khofifah. Lebih lanjut Gubernur Khofifah mencontohkan, mahasiswa UINSA di awal pembukaan AICIS 2023 yang menyajikan berbagai Tari Kreasi Nusantara dan menyanyikan Yamko Rambe Yamko dan lagu daerah lainnyan. Sebutnya, penampilan itu merupakan contoh nyata dari akulturasi yang harmonis dan saling menghormati.

“Kita bisa lihat tadi di awal pembukaan mahasiswa-mahasiswi UINSA mempertunjukkan tari kreasi dari berbagai daerah di Nusantara. Mereka juga menyanyikan Yamko Rambe Yamko yang asalnya dari Papua serta lagu daerah lainnya . Ini adalah proses sinergi kultural yang luar biasa, bahwa meski berbeda-beda kita bisa menghargai satu sama lain,” sebut Gubernur Khofifah.

Ia pun menyampaikan apresiasinya terhadap tim penyelenggara AICIS 2023 dan seluruh pembicara yang hadir pada pembukaan malam itu. Baik dari dalam maupun luar negeri.

“Super team dari AICIS 2023 dan UIN Sunan Ampel Surabaya, serta seluruh penyelenggara dari dalam dan luar negeri. Mari kira bergandengan tangan agar saling menguatkan, agar perdamaian, keharmonisan, dan kesejahteraan dapat tercapai,” pungkasnya.

Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas dalam amanatnya menyampaikan bahwa menyampaikan rasa bangga dan mengucapkan selamat datang di AICIS yang ke-22. “Peringatan AICIS 2023 ini mengambil tema penting dan sangat relevan dalam tema ini. Ada 3 hal penting. rekontekstualisasi fiqih untuk kemanusiaan dan perdamaian berkelanjutan,” ujarnya. Dirinya juga mengatakan bahwa saat ini tatanan sosial terus menerus mengalami perubahan. “Sehingga cara hidup statis menentang prinsip perubahan yang dinamis termasuk sunatullah,” kata Menag Yaqut.

Gus Menteri sapaan lekatnya, menyampaikan, rumusan norma agama akan selalu dan seharusnya berubah mengikuti perkembangan sosial sewaktu-waktu. “Dengan demikian fiqih akan menjawab persoalan-persoalan baru yang muncul. Saat ini yang terpenting adalah keberanian untuk merubah itu,” katanya. “Karena saat ini kita akan berhadapan dengan orang-orang yang menganggap fiqh adalah suci dan kaku seperti alquran. Dan ini adalah pandangan yang salah,” lanjutnya.

Menurut Yaqut, AICIS punya tujuan besar. Dimana, AICIS berperan untuk mewujudkan hukum agama yang rahmatan lil alamin. “Kepada seluruh peserta AICIS, selamat bertukar pikiran yang membawa kemajuan peradaban agama,” tandasnya. (red) “AICIS 2023 lebih menitikberatkan pada fiqih Kemanusiaan, Peradaban & Perdamaian Global”




Menjawab Isu Kesetaraan: PSGA Dan PSPA Universitas Islam Tribakti Mengadakan Seminar Diskursus Gender Di Tribakti

Psg collage 3 (1)

PSGA- Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) bersama dengan Pusat studi pesantren dan Aswaja (PSPA) Universitas Islam Tribakti (UIT) mengadakan acara seminar yang bertajuk Diskursus Gender di Lingkungan Pesantren : Menjawab isu isu kesetaraan. Seminar ini berlangsung di Aula Makrus Aly mulai pukul 11.00 – 13.30 WIB. Senin, 13 Maret 2023.

Amalia Rosyadi putri, M.Med.Kom Ketua Panitia Acara yg juga ketua PSGA UIT Lirboyo menyatakan acara ini sangat perlu diselenggarakan untuk membuka cakrawala mahasiswi dan santri untuk meningkatkan kapasitas diri agar bisa bermanfaat & action di masyarakat luas. Mendorong mahasiswa untuk mengangkat tema – tema gender dalam tugas akhir kuliah atau skripsi.

Sambutan sekaligus pembukaan acara secara resmi dilakukan oleh wakil rektor II, Dr. Ahmad Jauhar Fuad, M. Pd. Dalam sambutannya beliau mengatakan out put dari acara ini bagi dosen harus menghasilkan artikel dan penelitian bertema gender dan pesantren. Hadir jurnal khusus Studi Gender & Studi Pesantren, karena Tribakti adalah kampus dengan basic pesantren. Doa dipimpin oleh Kepala PJM (Pusat Jaminan Mutu( KH. Halim Mustofa, M.HI.

Setelah opening cermonial selesai acara seminar langsung dimulai. Pemaparan materi yang pertama oleh ibu Dewi Mariya Ulfa, S.T. yang merupakan Wakil Bupati Kediri sebagai pengantar pada acara tersebut.

Dewi Maria Ulfa, S.T dalam seminar tersebut mengutarakan bahwa memang hari ini perempuan terutama santri putri butuh disupport semangatnya kepercayaan dirinya untuk berkhidmah di masyarakat lewat jalur politik, karena fakta dilapangan hari ini mengatakan bahwa merayu perempuan untuk berani menujukkan diri itu tidak mudah, seperti yang dialami oleh istri dari bupati Kediri itu sendiri, yang merupakan seorang yang baru terjun diranah perpolitikan.

Sebelumnya disampaikan oleh moderator bahwa data yang ditemukan dalam keterwakilan peran perempuan di parlemen Kota Kediri dan di Kabupaten Kediri masih terdapat selisih yang signifikan. Kota kediri menduduki angka 36% sedangkan di Kabupaten Kediri masih menduduki angka 22%. yang berarti dari 50 anggota DPRD Kediri terdapat 11 keterwakilan dari perempuan. Seperti yang dikatakan pemateri pertama tersebut “Kabupaten Kediri dari 50 anggota DPRD itu Masih 11 perempuannya, belum ada 30% keterwakilan perempuan.

Bu Wabup menambahkan yaitu “Ketika kita ingin menjadi wanita yang berkontribusi lebih untuk lingkungan masyarakat maupun negara adalah bukan dengan menjauhi sistem akan tetapi kita masuk kedalam sistem itu sendiri karana kalau kita tidak mencoba kita tidak akan pernah tau bagaimana tantangan bagaimana masalah kita harus mengahdapi masalah tersebut.”

Pemateri kedua & ketiga adalah gus Agus Ahmad Kafabihi Mahrus dan Ning Sheila Hasina Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Gus Ahmad menyampaikan “perempuan bisa menjadi apa yang ia ingkinkan asal kan tidak keluar dari ajaran islam dan norma norma nya sebagai seorang perempuan”.

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ
Beliau juga menambahkan “Mereka laki laki dan perempuan sama sma memilki kesempatan untuk mendaptkan amal yg baik, sama sama memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang baik, la ini adalah norma norma al quran yg sangat menjunjung tinggi tentang kesetaraan gender itu sendiri tapi dalam hal ini jgn sampai pola feminisme ini membuat seorang perempuan semakin leluasa semakin arogan dalam langkahnya, tetap lah mengetahui dia sbg kodrat, selamanya perempuan tidak akan sama dengan laki laki,

وَ لَيۡسَ الذَّكَرُ كَالۡاُنۡثٰى‌‌ۚ, tidak akan sama ya, kalau prempuan pgn disamakan dengan laki laki ya… alquran sdh menge nash kan dlm ayat tsbt, mau bagaimanapun ia tidak akan sama dg laki laki maka dlm hal ini lah perlu nya antara perempuan dan laki laki saling bersinergi jagn mnntut haq jgn menuntut kebenaran tapi saling menghargai satu sama lain agar tercipta yang namanya keselamatan masing masing. “

Sheila Hasinan yang merupakan putri keturunan dari salah satu masayikh Pondok Pesantran Lirboyo Jawa Timur, KH Zamzami Mahrus dan Nyai Hj Hannah Zamzami. Ning Sheila menyampaikan materinya yang bertemakan menjawab isu isu mesoginis santri ketimpangan relasi laki laki dan perempuan dilingkuangamn pondoik pesantren ditinjau dari perspektif dari pengasuh pondok pesantren.

Neng Sheilla mengatakan bahwa “ perempuan mengapa ada gerakan feminisme karena perempuan itu bukan minta kesetaraan secara mutlak tapi karena ingin dihormati” karena kebanyakan dari seorang perempuan itu atau dari pelopor gerakan feminisme yang ada dipesantren itu awalnya bukan karena mereka tidak tau hukum , tapi banyak dari laki- laki juga merupakan kewajibannya sehingga mengakibatkan KDRT terhadap perempuannya. Tambahnya yang merupakan istri dari Gus Ahmad tersebut.

Di akhir acara diadakan pemberian cinderamata oleh ketua PSGA UIT kepada Ning Sheila dan Wakil Bupati Kediri, sementara kepala LP3M Dr. Zaenal arifin Bu memberikan cinderamata kepada Gus Ahmad dan memberikan buku dari tim LP3M kepada mbak Wabup dilanjutkan dengan foto bersama para peserta (AR)




PARTISIPASI DOSEN UIT LIRBOYO KEDIRI DALAM TRAINING OF TRAINERS (TOT) MODERASI BERAGAMA

1

Salah satu Program Prioritas Menteri Agama adalah Penguatan Moderasi Beragama (PMB). Untuk mendukung implementasi program tersebut, Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tengah menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) Penguatan Moderasi Beragam. Program PMB menjadi tugas kita bersama. “Beberapa tahun lalu program ini diperjuangkan agar menjadi program nasional. Bersyukur, PMB sudah masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Kementerian Agama harus terdepan dalam menyukseskan PMB sesuai dengan tugas dan fungsinya. Karena itu, PMB merupakan pekerjaan besar yang memerlukan biaya besar serta melibatkan SDM dalam jumlah yang juga besar.
IAIN Kediri mengadakan kegiatan Training of Trainers (ToT) Moderasi Beragama bekerja sama dengan Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag RI. Kegiatan dilakukan selama enam hari di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan dibuka secara langsung oleh Rektor IAIN Kediri, Wahidul Anam, serta dihadiri oleh Wakil Rektor I IAIN Kediri Ahmad Subakir, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Husnul Maram, serta Tim Penyelenggara Pelatihan. Dalam kegiatn tersebut diikuti oleh A. Jauhar Fuad, kegiatan tersebut dilakasnakan 20-25 Februari 2023.
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Husnul Maram, menyambut baik dan mendukung penyelenggaraan ToT Moderasi Beragama yang digagas IAIN Kediri ini. “Salah satu prioritas dan program Kementerian Agama harus diilhami dengan nilai moderasi beragama dan ciri-ciri moderasi beragama yaitu kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan adaptif terhadap budaya lokal,” pesannya yang disampaikan pada acara pembukaan. Lebih lanjut, Husnul Maram menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki 665 kantor KUA di kecamatan dan beliau siap bekerja sama dengan IAIN Kediri dalam menyukseskan penguatan moderasi beragama di wilayah Jawa Timur.
Memasuki hari ketiga pada Rabu (22/02/2023). Materi pada hari ketiga disampaikan secara langsung oleh Menteri Agama RI Periode 2014-2019 yakni Lukman Hakim Saifuddin. Secara khusus, beliau menjelaskan konsep moderasi beragama Kementerian Agama yang disambut dengan antusias oleh para peserta. Lukman Hakim Saifuddin menuturkan bahwa setiap manusia akan berhadapan dengan teks keagamaan baik barupa Al-Qurán, Hadits, Kitab Kuning, Injil dan sebagainya. Agama dipilih dalam dua ketegori yaitu ushul (berkaitan dengan memanusiakan manusia, anti diskriminasi, dsb.) dan furuí (misalnya, salat subuh menggunakan qunut atau tidak, apakah muslimah yang baik adalah yang bercadar atau tidak, dll.). “Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama melainkan memoderasi pemahaman dan pengalaman kita dalam beragama,” tegasnya. Pembelajaran dilakukan secara dua arah. Para peserta juga diminta untuk menyampaikan pemahaman terkait batasan moderat sebagaimana yang diketahuinya. Di akhir pertemuan, beliau mengingatkan bahwasanya empat indikator moderasi beragama penting untuk dipahami dan diingat, yaitu komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan penerimaan terhadap tradisi.
“Kini di masyarakat diperhadapkan dengan pertanyaan perlu tidaknya PMB. Para trainer harus bisa menjawab pertanyaan tersebut. Perlu tidaknya PMB bisa dianalogikan seperti kerukunan dalam sebuah rumah tangga. Kerukunan itu harus dibina, dan untuk membinanya perlu program. Untuk membina kerukunan keluarga saja, suami istri perlu menjalani kegiatan-kegiatan yang semakin mendekatkan keduanya, berkomunikasi satu sama lain, bahkan rela menyisihkan waktu dan biaya demi kebersamaan. Untuk keluarga saja seperti itu, apalagi ini untuk negara,” ujar Mardina.




Pembahasan Program Kerja Fortama dan Konsorsium Prodi di Lingkungan Kopertais Wilayah IV Surabaya

Fortama

Senin, 23 Januari 2023 Program Studi Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam (IAI) Al-Qolam Malang menyelenggarakan acara Pembahasan Program Kerja FORTAMA dan konsorsium Prodi di lingkungan Kopertais Wilayah IV Surabaya. Acara ini dihadiri oleh rektor IAI Al-Qolam Malang, Wakil rektor 2 IAI Al Qoman, Dekan fakultas tarbiyah, segenap kaprodi IAI Al Qolam, dan Pengurus serta anggota FORTAMA Kopertais wilayah IV Surabaya. Universitas Islam Tribakti mengirimkan 3 perwakilan, yakni Mohammad Auza’i Aqib sebagai ketua FORTAMA, Mohammad Safa’udin sebagai pengurus divisi pendidikan dan kurikulum, dan Imam Mutamaqin sebagau pengurus divisi penelitian.

Acara dimulai dengan tukar pandangan terkait kurikulum MBKM yang berlaku di instusi masing-masing. Ada yang sudah berjalan 2 angkatan, ada pula yang telah menyusun dan siap untuk diterapkan. Berbagai kampus yang terlibat diskusi yakni dari Universitas Islam Zainul Hasan, Universitas Islam Tribakti Lirboyo, IAI Al-Qolam Malang, Universitas Ibrahimiy Sukorejo Situbondo, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Probolonggo.

Adapun agenda selanjutnya adalah penyusunan rapat kerja Fortama yang menghasilkan rencana jangka pendek, rencana jangka menengah, dan rencana jangka panjang. Rencana jangka pendek yakni menghasilkan berbagai program yakni Pertukaran Dosen, Pertukaran Editor, Pertukaran Author Tulisan, Pembuatan Website Fortama. Sementara itu program jangka menengah berupa Seminar Nasional Berkala (IOP), Kolaborasi Penelitian Berscopus, dan Kolaborasi artikel pengabdian. Adapun program jangka panjang yang akan ditindaklanjuti fortama mencakup Workshop MBKM dan Penunjangnya (RPS, logbook, KHS, sertifikat, Asistensi, KKNT, dll) yang dilaksanakan di pertengahan tahun 2023, Pelatihan Penulisan Scopus dan Pengelolaan Jurnal Terakreditasi di akhir tahun 2023, dan Seminar Internasional Kolaborasi pada tahun 2024.




PSGA UIT Lirboyo Kediri hadiri acara FGD Indikator Program Siaran Berkualitas yang di selenggarakan KPID DIY

Kegiatan KPID DIY

PSGA_Ketua PSGA UIT Lirboyo Kediri, Amalia Rosyadi Putri, S.Kom.I, M.Med.Kom menghadiri acara FGD Indikator Program Siaran Berkualitas yang di selenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY (Daerah istimewa Jogjakarta). Acara tersebut di selenggarakan pada hari Selasa – Rabu 17-18 Januari 2023.

Dalam acara FGD tersebut ketua PSGA UIT Lirboyo Kediri, diminta memberikan masukan terkait program acara ramah anak & perempuan. “selama ini perempuan di media massa hanya sebagai obyek eksploitasi fisik yg berlebihan, sehingga media memberikan stigma negatif bagi perempuan karena hanya bisa menonjolkan kan Sisi keseksiannya dan sebagainya, berharap media tidak terlalu memblow up hal-hal negatif bagi perempuan hanya menampilkan bahwa perempuan mampu di urusan domestiknya saja (dapur, kasur)”,

Ketua PSGA UIT juga berharap lembaga penyiaran baik TV atau radio lebih memperhatikan kepentingan anak-anak dengan menambah program – program yang bisa mencerdaskan anak. Sedikit sekali program acara yang dikhususkan untuk anak, hal ini nampak pada data radio di JATIM hanya 5% saja dr 389 media Yanga ada di wilayah JATIM.

Akhir-akhir ini, muncul fenomena fajar sad boy seorang anak yang sedang putus cinta,sering muncul di acara TV dengan kisah asmara nya yang sangat menyedihkan, lantas bagaimana regulasi UU Penyiaran 32 tahun 2003?
Berdasarkan pedoman perilaku penyiaran dan standart program siar (P3SPS) pada peraturan SPS di jelaskan bahwa anak terdiri atas kategori anak-anak dan remaja. Anak- anak pda usia 7-12 tahun remaja pada usia 12-17 tahun . Anak tidak boleh di hadirkan sebagai narasumber di luar kapasitas mereka dalam konteks bencana atau musibah konflik atau keluarga konfliks kekerasan tromatis. Fajar adalah remaja usia 15 tahun, bagi remaja (13-17 tahun tidak ada larangan menampilkan cerita asmara Selama tidak melanggar norma dan kesusilaan. Kalau yang untuk anak-anak (7-12 tahun) baru di larang. Meskipun regulasi tidak melarang lembaga penyiaran sebaiknya media TV atau radio dapat menampilkan acara yang ramah anak, mengahdirkan program yang inspiratif dan penuh teladan. Imbuh Amalia Rosyadi, yang pernah menjabat menjadi komisioner KPID Prov. Jawa Timur tahun 2016-2021.

Pada FGD tersebut dipimpin langsung oleh ketua KPID Prov. DIY, Dewi Nur Hasanah, S.Th.I, M.A ,alumni Magister Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada selain fokus untuk menjadi Komando penyiaran di DIY,Juga sangat konsen mendorong program acara kebudayaan, program acara anak & perempuan.


TV nasional Trans 7 punya laptop si unyil,Tvri Jogjakarta juga punya program acara kuncung bawuk. Yang tayang setiap senin pukul 17.30 program anak ini berisi tentang budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari anak yang pintar tapi juga memiliki attitude yang baik. Tambah Dewi Nur Hasanah yang juga merupakan koordinator kajian Islam dan gender LKIS Jogjakarta. Berharap FGD ini bisa membawa wajah penyiaran di DIY sangat ramah anak & gender (AR)