Kalender Akademik Genap TA 2019/2020




Sertifikat Akreditasi Program Studi lengkap

Silakan di sini download Sertifikat Akreditasi




Partisipasi dosen IAI Tribakti Kediri dan ICRLNC

WhatsApp Image 2019 11 03 at 10.20.23 AM

Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri mendapat kesempatan mengirimkan salah seorang dosen untuk menjadi salah satu pembicara dalam 1st International ConferenceReligion, Law, Nature and Culture for Achieving Sustainable Development Goals” Konferensi Internasional tentang Agama, Hukum, Alam dan Budaya dalam Mencapai Pembangunan Berkelanjutan pada hari selasa 29 Oktober 2019. Konferensi yang berlangsung di Auditorium Universitas Nasional Jakarta Selatan tersebut mengangkat tema lingkungan karena, melihat bahwa Indonesia adalah negara besar dengan keanekaragaman hayati yang kaya disebut sebagai “Mega-biodiversity Country”, sementara di sisi lain Indonesia juga punya dan sangat kaya dalam hal sumber daya alam dan kearifan budaya. di samping kawasan konservasi yang luas dengan sumber daya alam hayati di Indonesia bentuk taman nasional, cagar alam, taman hutan besar, atau dilindungi hutan. Banyak kearifan dan kehidupan tradisional telah terbukti menopang keberkelanjutan hidup dan kemampuan masyarakat lokal untuk melestarikan alam dan area alami. Tapi, Di sisi lain, masih ada perambahan hutan ilegal, dan perdagangan satwa liar ilegal masih menjadi tantangan. Melalui konferensi ini diharapkan dapat menjadi media eksplorasi agama, hukum, kearifan alam dan budaya dalam rangka meningkatkan pemahaman dan penghargaan di antara kompleksitas tantangan dalam melestarikan kami alam dan wilayah alami juga dalam mencari nexus dan sinergi dalam untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Pemakalah yang hadir pada ICRLNC tersebut lebih dari 30 institusi baik nasional maupun internasional dengan berbagai latar belakang, seperti AS, Australia, Ternate, Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku, Aceh, Medan, Jakarta, Bali, Yogyakarta, Banjarmasin Sulawesi Selatan, Surabaya, Kediri, Malang, Padang dan Kalimantan Barat. Konferensi ini menghadirkan keynote speaker dari berbagai bidang keilmuan diantaranya, Rev. Fletcher Harper, Phd, Eksekutif Direktur dari organisasi pemerhati agama dan lingkungan Green Faith Amerika Serikat, Ir. Wiratno, MSc, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Layanan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Prof, Dr. Arskal Salim Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. Fachruddin Mangunjaya, MSc, dari Universitas Nasional, Pusat Studi Islam (PPI),  Rosmidzatul Azila Mat Yamin, BSc, MSc, dari Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan Institut Pemahaman Islam Malaysia, Karmele Liano Sanches, BVSc, MSc, Direktur Animal Rescue Internasional dari Spanyol, dan Rizal Malik dari Kepala Eksekutif WWF (Worl Wide Fund for Nature) Indonesia.

Abbas Sofwan Matlail Fajar salah satu dosen tetap sekaligus kepala program studi Hukum Keluarga Islam dalam konferensi tersebut mempresentasikan makalahnya pada sesi paralel dengan tema Environmental Ethics On Slopes Of Mount Kelud: Local Community Responses To The Utilization Of Mount Kelud Materials After 2014 Eruption Etika Lingkungan di Lereng Gunung Kelud: Respon Masyarakat Lokal terhadap Pemanfaatan Material Gunung Pasca Erupsi tahun 2014. Menurutnya Hidup bersama Kelud adalah sebuah keniscayaan bagi masyarakat Kediri. Oleh karena itu, mutlak kiranya masyarakat Kabupaten Kediri untuk memahami makna Kelud dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman makna yang mendasar mengenai Kelud itulah yang melahirkan kearifan lokal (local wishdom) masyarakat Kabupaten Kediri dalam menjalin interaksi dangan Gunung Kelud dan menjaga keseimbangan ekosimtemnya. Kearifan Lokal (local wishdom) ini penting dilestarikan, karena masyarakat Kabupaten Kediri banyak diuntungkan dalam banyak aspek kehidupan oleh Kelud. Baik aspek Ekonomi, Ekologi maupun Kehidupan Sosial (Equality).

Abbas Sofwan Matlail Fajar Sedang mempresentasikan makalah

Diskusi paralel pada konferensi tersebut diadakan setelah presentasi para nara sumber utama, dan sesi paralel terbagi menjadi delapan ruang, masing masing ruangan dipilih kategori presentasi terbaik oleh panitia penyelenggara. Abbas Sofwan delegasi dari Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri yang memaparkan dan mempresentasikan artikelnya  pada ruang delapan mendapatkan predikat presentasi terbaik dengan artikelnya tentang Respon Masyarakat Lereng Gunung Kelud Pasca Erupsri 2014, ia mendapatkan penghargaan beberapa buku tentang lingkungan dan konservasi sumber daya alam sekaligus marchandise dari Universitas Nasional sebagai tuan rumah dan penyelenggara konferensi internasional tersebut. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Dr. Fachruddin Mangunjaya, MSc selaku Kepala Pusat Pengkajian Islam Universitas Nasional yang juga merupakan penulis produktif dalam bidang Islam dan Lingkungan Hidup diantaranya Konservasi Alam Dalam Islam, Bertahan di Bumi, Khazanah Alam:Menggali Tradisi Islam untuk Konservasi, Ekopesantren: Bagaimana Merancang Pesantren Ramah Lingkungan, dan Menanam Sebelum Kiamat: Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup.




Orasi Ilmiah Yusidium IAI-Tribakti Lirboyo Kediri Bersama Gus Baha

WhatsApp Image 2019 09 19 at 5.34.32 AM



Stadium General Prodi Ahwal Syakhsyiyah Bersama Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman dari Refak University Libya

WhatsApp Image 2019 09 22 at 1.25.19 PM

Salah satu upaya prodi Ahwal Al Syakhsiyyah Fakultas Syari’ah dalam meningkatkan kualitas keilmuan dan wawasan ke Islaman mahasiswa adalah mengadakan Stadium General. Kegiatan tersebut diadakan pada hari Kamis, 12 September 2019 bertempat di Aula Makhrus Ali Institut Agama Islam Tribakti Kediri, pada Stadium General kali ini menghadirkan Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman dari Universitas Refak Libya. Kegiatan tersebut selain sebagai penunjang pembelajaran juga berfungsi sebagai upaya Institut Agama Islam Tribakti Kediri dalam menjalin hubungan akademis dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri.

Stadium general tersebut di ikuti seluruh mahasiswa/i prodi  Ahwal Al Syakhsiyyah dan juga beberapa mahasiswa dari fakultas Dakwah dan Tarbiyah. Suasana kuliah umum ini menjadi lebih menarik karena nara sumber menyampaikan materi dengan menggunakan bahasa Arab sehingga acara berlangsung dalam suasana akademik yang penuh khidmat.  Adapun tema dalam Stadium General kali ini adalah  Perbudakan Masa Lalu Hingga Kini. Bertindak sebagai moderator sekaligus penerjemah pada acara ini adalah Ka Prodi Ahwal Syakhsyiah H. Abbas Sofwan MF, LL.M.

Statement Pembuka (Opening Statement) yang disampaikan oleh pemateri sangat menarik, karena pemateri menyatakan bahwa Kajian ke-Islaman (Islamic Studies) merupakan implementasi dari misi Rasalullah SAW yang membawa cahaya kebenaran bagi dunia dan solusi bagi segala problematikan dari interaksi sesama manusia. Dalam sejarah, perbudakan telah terjadi jauh sebelum Islam datang, tetapi dalam realitanya dunia telah menggunakan logika terbalik yang seakan-akan problem tersebut muncul dari Islam.

Menurut Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman, budak adalah seseorang yang di hapuskan segala haknya beserta kehormatannya karena di ambil alih kewenangan sepenuhnya oleh tuan pemilik budak tersebut. Dalam lintas sejarah perbudakan terjadi karena beberapa faktor:

Pertama, Perang Dan Ekspansi Wilayah, hal tersebut berdasarkan  sifat imperatif manusia yang ingin menguasai  sehingga menindas satu sama lain, kemudian menjadikan yang lemah di antara mereka menjadi budak .

Kedua, Faktor Kemiskinan, dalam masyarakat primitif sebelumnya perbudakan muncul berdasarkan cara pandang kepemilikan pribadi yang melahirkan stratifikasi dalam masyarakat sehingga terciptalah komoditi perdagangan manusia.

Ketiga, Hutang, berhutang adalah transaksi sosial yang tidak bisa dilepaskan dalan interaksi manusia seumur hidup, konsekuensi ketidak sanggupan dalam membayar hutang tersebut membuat seseorang melakukan segala hal agar  dapat melunasi hutang-hutannya sehingga orang tersebut mau dijadikan budak oleh pemberi hutang.

Keempat, Kriminalitas, sistem masyarakat tribal (kesukuan) merupakan bentuk sistem sosial pada masa dahulu. Norma norma kesukuan meupakan hal yang fundamental yang harus di pegang setiap anggotanya, dalam hal ini setiap anggota yang melanggar harus patuh terhadap keputusan atau hukuman dari kepala suku, dan putusan yang paling berat adalah di usir dari anggotanya sehingga anggota suku yang di usir tersebut menjadi gelandangan dan masuk ke anggota suku lain dan menempati strata paling rendah yakni menjadi seorang budak.

Kelima, Penculikan, Pada zaman dahulu sifat primitif  manusia telah menuntun manusia untuk menguasai dan memiliki segala sesuatu termasuk kepemilikan dan hak seseorang, yang membuat manusia itu sendiri membajak kabilah lain dan menculik anggota-anggota suku untuk di jadikan seorang budak. Di lanjutkan pada waktu revolusy industri orang-orang Belgia memeperlakukan penduduk Afrika sebagai bahan impor. Dan bahkan dalam skala perkembangnya budak yang di impor dari Afrika menempati posisi pasar budak terbesar di dunia, walaupun misi tersebut secara tekstual sudah di hapuskan pada Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Manusia UN-UDHR (Universal Declaration of Human Right) pada tahun 1948, tetapi perbudakan masih terus terjadi dalam kemasan yang berbeda sampai sekarang.

Setelah usai acara tersebut, para jajaran Rektorat dan Pimpinan Institut Agama Islam Tribakti Kediri berkesempatan untuk menerima piagam kehormatan (Cerificate of Appreciation) dari Universitar Refak Libya. Piagam tersebut diserahkan langsung oleh Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman kepada Kyai Reza Ahmad Zahid, MA dan disaksikan oleh Dr. Abu Bakar al-Shorary selaku Delegasi Antarbangsa dari Universitas Negeri Al-Zaituna Libya. (Abbas Sofwan)