Menguatkan NKRI Program Mengaji Indonesia diselenggarakan di Perguruan Tinggi Islam

Belakang 5a9e5011076cd

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Senin, 05 Maret 2018 di halaman gedung Twin Towers menyelenggarakan Mengaji (mengasah Jati Diri) Indonesia. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama UIN Sunan Ampel Surabaya dan Kementerian Agama RI dalam rangka menguatkan NKRI yang agamis dan pancasilais.

Peserta yang terlibat segenap civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya, Rektor PTKIN sejawa Timur dan perwakilan dari PTKIS Kopertais Wilayah IV Surabaya termasuk dari IAI-Tribakti Lirboyo Kediri yang diwakili Dr. A. Jauhar Fuad, Yasin Nur Falah, M. Arif Khoiruddin dan Ahmad Fauzi. Tak ketinggalan, kegiatan berkonsep outdoor tersebut juga dihadiri ribuan masyarakat Kota Surabaya dan sekitarnya.

Isu kebangsaan menjadi diskusi serius dan penting di tengah maraknya paham radikalisme. Sebab, apapun alasannya, radikalisme jelas tidak sesuai dengan adat Ketimuran yang sarat akan nilai toleransi dan penghargaan atas keberagaman. Lebih parahnya, ketika radikalisme menjadikan isu sara dan agama sebagai pemantik. “Kegiatan ini sebagai bentuk kebersamaan kita dalam merawat Ke-Indonesiaan,” ujar Prof. Dr. H. Abd. A’la, M.Ag., Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dalam pidato pembuka kegiatan ‘Mengaji Indonesia’

Mengaji Indonesia kali ini mengangkat tema, ‘Islam Indonesia: Penebar Kedamaian’. Hadir sebagai narasumber KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus sebagai ulama juga budayawan, dan presenter senior Rosianna Silalahi, yang juga Direktur Pemberitaan Kompas TV.

Prof. A’la dalam kesempatan tersebut menyampaikan, Mengaji Indonesia (MI) merupakan kegiatan unggulan Kemenag RI yang terinspirasi dari sukses penyelenggaran kegiatan UINSA Mengaji Indonesia (UMI) pada Agustus 2017 lalu. Hal ini mengingat, kegiatan UMI sejalan dengan program Kemenag dalam rangka menggaungkan nilai-nilai Ke-Islaman yang damai dan moderat.

“Kata ‘Mengaji’ bisa dimaknai secara harfiah sebagai memahami, mengenal esensi, hakikat. Tapi mengaji juga menjadi Akronim dari Mengasah Jati Diri. Sehingga Kita ingin melalui forum ini semakin memiliki keteguhan pemahaman bagaimana menjadi Indonesia,” tutur Menag RI dalam statemen pembuka.

Menag RI yang dalam kesempatan tersebut secara khusus menjadi host kegiatan diskusi berharap, dapat lebih banyak mendengar dan menyerap aspirasi dari masyarakat. Dimulai dengan pertanyaan mengenai Indonesia pada Gus Mus, Menag RI mengenang bagaimana dulu di bangku sekolah diajarkan tentang Indonesia yang ramah, sopan santun, gotong royong, dan senang berbagi dengan yang lain. “Apakah hal positif yang sebagaimana dulu saya diajarkan itu masih bisa kita rasakan? Apa sebenarnya yang perlu kita jaga, yang dulu diwariskan para pendahulu kita?” ujar Menag RI mengawali pertanyaan.

Gus Mus, mengawali penyampaiannya menyatakan, salah satu nilai penting Indonesia adalah kelemahlembutan. Prinsip inilah yang menurut Gus Mus harus dijaga dan dirawat dalam Ke-Bhinnekaan Indonesia. Lebih lanjut disampaikan Gus Mus, bahwa sejatinya sumber malapetaka kehidupan adalah kesenangan yang berlebihan terhadap hal duniawi. “Kalau kita tidak bisa zuhud seperti pendahulu kita, setidaknya kita belajar hidup sederhana,” ujar Gus Mus memberi nasehat.

Beralih pada Rosianna, Menag RI meminta pandangan terkait apa yang dirasakannya sebagai Pemeluk Agama Katolik di tengah negara yang mayoritas Muslim. Menanggapi pertanyaan Menag RI, Rosianna mengawali dengan pengenalan mengenai Media Kompas. Dijelakannya, dalam konstelasi politik saat ini, baik Kompas TV, Koran Kompas, maupun Kompas.com menyatakan diri dalam slogan Rumah Pilkada. “Kenapa rumah? Karena tidak ada satupun orang yang ingin membakar rumahnya sendiri. Kita boleh berbeda, kita boleh berkompetisi, tapi kita tidak akan ingin membakar rumah kita sendiri,” tegas Rosianna.

Sementara itu, menjawab pertanyaan Menag RI, Rosianna dengan bangga mengatakan, bahwa selama hidupnya, ia selalu merasa dilindungi oleh Umat Muslim. Rosi juga menceritakan bagaimana keluarganya sekalipun berbeda keyakinan, tidak pernah merasa risih dengan simbol-simbol agama lain. “Saya ingat, sewaktu saya kecil, selalu ada siaran adzan maghrib di TV. Ibu selalu menyuruh saya, besarkan volumenya! Beliau bilang, kita memang tidak tahu artinya. Tapi saya yakin ini adalah alunan kemuliaan untuk Tuhan,” ujar Rosianna disambut tepuk tangan meriah para hadirin.

Disamping kedua narasumber, Prof. A’la pun, tak luput dari bidikan Menag RI, sang Host. Kepada Prof. A’la, Menag RI bertanya tentang apa sebenarnya yang menjadi modal utama yang harus dijaga dalam kehidupan bernegara. Prof. A’la pun menjelaskan, sebagaimana dikutip dari Gus Mus, bahwa agama sebagai sumber moral harus dikembangkan. Bangsa Indonesia, menurut Prof. A’la, adalah orang-orang dengan kecenderungan memiliki keterikatan kuat dengan agama.

“Lantas kenapa saat ini, orang cenderung berkonflik justru karena agama?” sela Menag RI. Menjawab pertanyaan tersebut, Prof. A’la pun menyampaikan, bahwa sejatinya agama bukanlah pemicu konflik. Melainkan hanya pemantik, alat untuk menegaskan perbedaan yang dipertentangkan.

“Kenapa harus agama yang jadi alat?” sela Menag RI lagi, yang kali ini ditujukan pada Gus Mus. Gus Mus pun menjawab singkat dengan gaya jenaka khas. “Karena mereka tidak Ngaji,” seloroh Gus Mus. Mengaji yang disampaikan Gus Mus disini, tidak hanya membaca kitab suci, melainkan juga memahami ilmu agama.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.00-23.00 WIB tersebut tidak hanya diisi diskusi dan paparan narasumber. Civitas akademika serta masyarakat yang hadir pun mendapat kesempatan berdialog dengan para tokoh nasional. Diselingi dengan penampilan seni dari Komunitas Jaguar Nusantara, The Nazimiyya Whirling & Shalawat (Tari Sufi) serta tim angklung kolintang, serta Paduan Suara Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, kegiatan ini menjadi perhelatan akbar yang melibatkan langsung beberapa komponen penting bangsa. Yakni, Pemerintah, Dunia Pendidikan, tokoh agama, tokoh media, dan Masyarakat. 

Sumber: UINSA




Kuliah Umum KH. Said Aqil Siroj

8235



BEM- IAI-Tribakti Kediri Hadiri Muskerwil BEM-PTAI Se Jawa Timur

WhatsApp Image 2018 02 27 at 17.32.00

Musyawarah Kerja Wilayah (MUSKERWIL) BEM PTAI sejawa timur kembali digelar pada 24-26 Februari 2018 yang bertempat di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Akhoirot Kab. Pamekasan Madura. Acara ini dihadiri oleh 30 Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sejawa timur yang Salah satunya Adalah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri yang secara khusus mendapatan undangan yang istimewa.

Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar mahasiswa dalam memacu kualitas dan pegalaman mereka “ Kegiatan ini sangatlah penting , karena melalui forum ini dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi bagi pemerintah daerah sebagai bentuk sumbangsih bagi kemajuan bangsa dan negara ujar Khadikul Fikri Selaku Presiden Mahasiswa IAIT Kediri.

Dibuka oleh Bapak Bupati Kabupaten Pamekasan kegiatan ini diawali dengan agenda seminar bertajuk orasi Ilmiah yang mengangkat Tema “Spirit Agama Dalam Pembangunan Nasional”. Dalam seminar yang diisi oleh Bapak. Moh Tasrun selaku Tokoh inspirasi madura sekaligus dinas pendidikan pamekasan. Beliau Menyampaikan bahwa ajaran dan nilai nilai agama harus mampu menjadi motif yang memunculkan spirit yang mampu di manifestasikan untuk pembagunan nasional baik dalam segi sumber daya manusianya maupun dalam segi infrastrukturnya.

Acara ini dilanjutkan dengan agenda musyawarah wilayah yang berbentuk sidang umum membahas tentang ADART organisasi dan pernyataan sikap BEM PTAI jawa timur terhadap UU MD 3 dan Kenaikan harga BBM serta Tarif dasar Listrik yng sangat mencekik rakyat kecil. Anis Rahmatullah selaku Ketua Umum mengatakan bahwa aliansi Seluruh BEM yang tergabung dalam aliansi BEM PTAI Jawa Timur Menolak UU MD 3 yang sangat merugikan rakyat dan hanya memihak pada DPR , kami juga menolak Kenaikan harga BBM serta tarif dasar listrik karena itu sangat mencekik rakyat menengah kebawah. (BEM-I)




Realisasi Mata Kuliah, Mahasiswa Prodi KPI Gelar Event

DB3

Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah menggelar event “Dakwah Berkibar 3” sebagai realisasi mata kuliah Event Organizer. Dengan mengusung jargon “Tampil Percaya Diri Di Depan Publik” acara tersebut berhasil menarik peserta dari seluruh jawa timur.

Dakwah Berkibar yang ke tiga kali ini menggelar dua event sekaligus. Event pertama adalah perlombaan yang terdiri dari audisi News Presenter kategori SMA dan umum, audisi Dakwah Via Media Massa, dan audisi Fotografi yang dilaksanakan pada tanggal 15-16 Februari 2018. Sedangkan babak final dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2018, bersamaan dengan event kedua yakni Pelatihan Public Speaking sebagai puncak acaranya.

Pada audisi News Presenter kategori SMA di ikuti sejumlah 60 peserta. Setelah melalui babak final, tersaring 10 finalis dengan juara 1 jatuh pada Ageng Susilo Febyanto Aji dari SMKN 1 Wono Asri Madiun, juara 2 Ahmad Ridlo dari SMKN 4 Kediri, juara 3 Kholidatun Nadzifatu dari SMAN 4 Blitar, juara harapan Renanda Dewi Efriyanti dari SMKN 1 Blitar, dan juara favorit jatuh pada Sintia Qona’ah Hapsari dari SMK ISLAM 1 DURENAN Trenggalek.

Lanjut pada audisi News Presenter kategori umum diikuti 38 peserta. Juara 1 diraih oleh Eko Saputro dari UIN Surabaya, juara 2 Elvrina Ainur dari UNAIR Surabaya, juara 3 Intan Sari Nurjannah dari STAIN Kediri, juara harapan M.Danang Prayogi dari IAIN Tulungagung, dan juara favorit diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Intan Kartika Sari.

Kemudian audisi Dakwah Via Media Massa diikuti 60 peserta. Juara pertama diperoleh Fauzi dari Asrama H.Ya’qub Pesantren Lirboyo, sedangkan juara 2 diperoleh pada Ahmad Banaji Pesantren Mahrusiyah, juara 3 Quratun A’yun dari STAIN Kediri, juara harapan Naila Ainul M dari Trunojoyo, dan juara favorit Nilna Muna Binti dari PPSM Badal Ngadiluwih Kediri.

Selanjutnya lomba Fotografi diikuti 28 peserta dengan juara 1 jatuh pada Wildan Arif Rahmatullah dari SMK Telkom Darul Ulum Jombang, Juara 2 Ahmad Izza Alfan Rizki dari MAN 1 Nganjuk, Muhammad Ichsan Yahya dari MA Mahrusiyah. Dakwah Berkibar menjadi agenda tahunan Prodi KPI yang di tangani langsung oleh pihak Fakultas Dakwah. (Tys).




Workshop LP2M Corong Bangkitkan Pers Mahasiswa Ditengah Percaturan Politik

X24 workshop 724x1024

Keberadaan pers mahasiswa di lingkungan kampus berbasis NU dan khususnya di IAIT Tribakti Kediri , perguruan tinggi tertua di Karesidenan Kediri, harus mampu mengambil sikap terhadap situasi percaturan politik di Indonesia.

Pernyatan ini disampaikan Direktur Lembaga Pers dan Penelitian Mahasiswa (LP2M) Corong, Akbar Muharrom, menyambut digelarnya workshop bertema Pers Mahasiswa di Tengah Percaturan Politik.

Rangkaian acara Dies Natalis ke – 10, juga digelar lomba esai dan karikatur, dimana pemenangnya akan diumumkan disela acara workshop dengan menghadirkan Ketua Paguyuban Lintas Masyarakat (PaLM) Kediri, Taufiq Al Amin.

“Harapan besar, agar memberikan pembekalan kepada para mahasiswa agar tetap netral dan menjaga idealismenya. Kita juga mengadakan 2 lomba,  yaitu lomba esai dan karikatur. Dipilihnya lomba tersebut, untuk  menambah semangat sekaligus menguji skill mahasiswa dalam dunia kejurnalistikan,” ungkap Direktur LP2M.

Terkait tema diambil dalam workshop, dijelaskan Akbar Muharrom, menginggat pada dua tahun mendatang, Indonesia akan menjalani pesta demokrasi. Dimana, keberadaan mahasiswa menjadi organ penting di tengah – tengah masyarakat.

“Apalagi banyak kejadian bahwa mahasiswa sering kali menjadi tangan kanan para pelaku politik praktis. Untuk itu, dengan acara ini mahasiswa tidaklah menjadi korban atas keterombang-ambingan situasi,” ungkapnya. (ian/nng)