Selamat dan Sukses, Hikmal Ramadhan Juara I MQK Nasional

Hikmal ramdhan 2

Pandanaran, Yogyakarta_Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) Nasional yang diselenggarakan oleh ISQI Pandanaran Yogyakarta, baru saja telah usai pada tanggal 18 s/d 19 Desember 2025.

MQK sendiri merupakan ajang kompetisi kemampuan dalam maharah qiroah, pemahaman, mengungkapkan kandungan kitab turats. Kegiatan ini bertujuan untuk kaderisasi ulama dan tokoh masyarakat di masa depan.

Di ajang MQK Nasional ini, mahasiswa UIT Lirboyo sekaligus seorang santri al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri dari Prodi  Hukum Keluarga Islam, yakni Hikmal Ramadhan Semester 5, berhasil Juara I MQK Tahun 2025 pada ajang ISQI tersebut.

Alhamdulillah, saya berhasil meraih juara I, setelah saya menerima kekalahan di Surabaya. Namun, saya bertekad menebus kekalahan dengan giat belajar terus mendalami kitab warisan ulama’ . Saya juga berterimakasih kepada pihak keluarga sivitas UIT Lirboyo Kediri, pengasuh, dan pengurus pesantren al-Mahrusiyah, teman-teman dan terkhusus dukungan luar biasa dari orang tua saya.

Kami segenap pimpinan UIT Lirboyo Kediri, bangga dan support terus perjalanan bakat ananda Hikmal dalam MQK.

Rektor UIT Lirboyo pun berharap, keberhasilan Hikmal Ramadhan, menjadi titik awal dalam mengkaji Samudra keilmuan dan mebimbing regenerasinya nanti, yang tidak sekadar pandai mengaji, juga berprestasi dalam berbagai event.

Semoga UIT Lirboyo akan melahirkan generasi-generasi mahssiwa sekaligus santri yang memiliki kualitas keilmuan yang mumpuni, manfaat dan juga berkah,”.




Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur Gandeng PSGA UIT Lirboyo Kediri, Perkuat Pencegahan Kekerasan Seksual Berbasis Online di Tebuireng Sains

3.1

Kediri — Perkembangan teknologi digital yang kian masif telah membuka ruang baru bagi pembelajaran dan dakwah, namun pada saat yang sama menghadirkan risiko laten berupa kekerasan seksual berbasis online. Menyadari kompleksitas tersebut, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jawa Timur menggandeng Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo untuk memperkuat upaya pencegahan cyber sexual harassment di lingkungan pesantren.

3.2

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan literasi digital “Cerdig – Cerdas Digital: Lawan Pelecehan Seksual, Ciptakan Internet yang Aman” yang digelar di Aula SMP Sains Tebuireng, Minggu (14/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis antara negara, akademisi, dan pesantren dalam merespons tantangan baru perlindungan anak dan santri di era digital.

3.3

Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur, Sherlita Ratna D. A., S.Si., M.IP., menegaskan bahwa kekerasan seksual berbasis online kerap terjadi secara tersembunyi dan berulang, sehingga membutuhkan pendekatan edukatif yang berkelanjutan. Menurutnya, literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kesadaran etis, keberanian melapor, serta kemampuan menjaga batas diri di ruang siber.

“Ketika anak dan remaja aktif di dunia digital, maka negara dan institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memastikan ruang tersebut aman dan manusiawi,” ujarnya.

Dari perspektif pesantren, KH. Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Tebuireng, menekankan bahwa nilai-nilai keislaman harus hadir sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan digital. Ia menilai, pesantren tidak boleh terpisah dari realitas teknologi, tetapi justru harus menjadi benteng moral dalam membimbing santri menyikapi dunia maya secara arif dan bertanggung jawab.

Sementara itu, Ketua PSGA UIT Lirboyo, Amalia Rosyadi Putri, S.Kom.I., M.Med.Kom., C.PS., menjelaskan bahwa kekerasan seksual berbasis online sering kali luput dari perhatian karena terjadi tanpa kontak fisik, namun dampaknya sangat nyata terhadap kesehatan mental, rasa aman, dan masa depan korban.

“Pencegahan harus dimulai dari kesadaran, keberpihakan pada korban, serta penciptaan sistem pendukung yang jelas di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren,” ungkapnya.

Materi diskusi juga diperkaya oleh paparan Muhajir Sultanul Aziz, S.Kom., M.I.Kom. dan Miftakhul Huda, S.Kom., yang mengulas lanskap ancaman pelecehan seksual di ruang digital, mulai dari pesan tidak pantas, eksploitasi visual, hingga manipulasi psikologis di media sosial. Keduanya menekankan pentingnya kecakapan digital kritis agar santri mampu mengenali risiko dan melindungi diri.

Kepala Sekolah SMP Sains Tebuireng, H. Haerul Anam, S.Pd.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi penguatan penting bagi ekosistem pendidikan pesantren yang adaptif terhadap perubahan zaman, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai luhur.

Melalui kolaborasi ini, Kominfo Jawa Timur dan PSGA UIT Lirboyo menegaskan komitmen bersama untuk membangun pesantren yang tidak hanya unggul secara akademik dan spiritual, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan kekerasan seksual di ruang digital—menjadikan internet sebagai ruang belajar yang aman, bermartabat, dan berkeadilan.

3.5 3.4




Kajian Gender UIN SMH Banten Hadirkan Ketua PSGA UIT Lirboyo Kediri Bahas Perlawanan Kekerasan Seksual Digital

2.1

Serang — Pusat Studi Gender, Anak, dan Difabel (PSGAD) LP2M UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten menggelar Kajian Gender bertema “Mewujudkan Keluarga Sakinah dan Perempuan Tangguh di Era Digital: Lawan Kekerasan Seksual”, Jumat (5/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang akademik reflektif untuk merespons meningkatnya tantangan kekerasan seksual berbasis digital yang kian kompleks di tengah masyarakat.

Kajian gender tersebut menghadirkan Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, Amalia Rosyadi Putri, S.Kom.I., M.Med.Kom., C.PS., sebagai narasumber utama. Kegiatan berlangsung dengan kehadiran lengkap pimpinan UIN SMH Banten, mulai dari Rektor, para Wakil Rektor, Dekan dan Wakil Dekan, Direktur dan Wakil Direktur Pascasarjana, hingga pimpinan unit dan lembaga, yang menunjukkan dukungan struktural terhadap agenda pengarusutamaan gender dan pencegahan kekerasan seksual. Acara pun dibuka oleh Rektor, yakni Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A.

2.2

Dalam paparannya, Amalia Rosyadi Putri menguraikan bahwa kekerasan seksual di era digital tidak hanya berwujud tindakan eksplisit, tetapi juga hadir dalam bentuk relasi kuasa yang timpang, normalisasi pelecehan di media sosial, serta penyalahgunaan teknologi komunikasi. Ia menegaskan bahwa ruang digital telah menjadi medan baru yang menuntut pendekatan pencegahan berbasis keluarga, pendidikan, dan institusi.

2.5 2.3

“Keluarga sakinah memiliki peran strategis sebagai benteng awal dalam membangun ketahanan moral, psikologis, dan digital, khususnya bagi perempuan dan anak. Tanpa penguatan dari hulu, upaya pencegahan akan selalu bersifat reaktif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguatan perempuan sebagai subjek aktif dalam ekosistem digital, bukan sekadar objek perlindungan. Menurutnya, perempuan yang tangguh secara literasi digital dan kesadaran hak akan lebih mampu mengenali, menolak, serta melaporkan berbagai bentuk kekerasan seksual berbasis online.

2.4

Kajian ini dipandu oleh Hj. Neneng Shalihah, S.Ag., M.Pd.I. selaku moderator, dengan Cian Nova Sudrajat Nur, M.Hum. sebagai host dan Monalisa, M.Pd. sebagai MC. Acara juga melibatkan unsur Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN SMH Banten sebagai bagian dari penguatan peran keluarga dan perempuan dalam lingkup kelembagaan.

Antusiasme peserta tercermin dari jumlah kehadiran yang melampaui perkiraan awal panitia. Dari target maksimal sekitar 30 peserta, kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 50 peserta, meskipun informasi kegiatan dibagikan secara terbatas menjelang pelaksanaan. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kepedulian sivitas akademika terhadap isu kekerasan seksual digital sebagai persoalan sosial sekaligus akademik.

Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan serta Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan, sehingga memiliki nilai strategis sebagai momentum refleksi dan penguatan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan berkeadilan gender.

Melalui kajian gender ini, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi Islam yang responsif terhadap isu-isu kontemporer, serta aktif membangun wacana keilmuan dan praktik sosial dalam upaya pencegahan kekerasan seksual di era digital.




PSGA UIT Lirboyo Gelar Seminar Nasional Memperingati Hari anti kekerasan terhadap perempuam (HKATP)2025

1

Kediri — Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri melalui Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) menyelenggarakan Seminar Nasional Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) 2025, Sabtu (13/12/2025), di Aula Kampus Mahrus ‘Aly. Kegiatan ini menjadi forum untuk memperkuat pendekatan multidisipliner dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

Seminar nasional tersebut mengusung tema “Menyatukan Gerak, Menguatkan Kesetaraan, dan Membangun Budaya Bebas Kekerasan” serta menghadirkan dua narasumber utama, yakni Royyin Fauziana, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur, dan Ning Firda Dhomirotul Firdaus, M.Pd., pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Tegal Arum Kediri. Kegiatan ini diikuti oleh civitas akademika, mahasiswa, santri, serta pegiat isu perempuan dan anak dari delegasi PSGA kampus se-Karesidenan Kediri.

3

Acara yang semestinya dibuka oleh rektor, namun beliau sedang menjalani ibadah umroh dan diwakilkan bapak Yasin Nurfalah, M.Pd Wakil Rektor 3 UIT Lirboyo. Dalam sambutannya, warek 3 memberi apresiasi kepada Amalia Rosyadi Putri, M.Med.Kom [Ketua PSGA UIT Lirboyo] yang dalam setiap kajian PSGA sangat bermanfaat bagi seluruh civitas akademika baik mahasiswa, tendik dan dosen putri. Beliau juga mengucapkan terimakasih kepada kampus mitra yg nantinya berkolaborasi untuk menyuarakan kesetaraan gender & perlindungan terhadap perempuan.

2
Dalam pemaparannya, Royyin Fauziana menjelaskan bahwa media memiliki posisi strategis dalam konstruksi sosial mengenai relasi gender. Ia menegaskan bahwa konten siaran dan pemberitaan yang menampilkan kekerasan, diskriminasi, atau objektifikasi terhadap perempuan berpotensi memperkuat budaya kekerasan secara sistemik.

“Media bukan sekadar sarana informasi, tetapi juga agen pembentuk nilai. Ketika kekerasan dinormalisasi melalui tayangan, maka masyarakat akan memandangnya sebagai sesuatu yang lumrah,” ujar Royyin. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya literasi media dan pengawasan isi siaran sebagai bagian dari pencegahan kekerasan berbasis struktural dan kultural.

Royyin juga menambahkan bahwa pendekatan regulatif perlu disertai dengan kesadaran publik agar masyarakat mampu bersikap kritis terhadap konten yang dikonsumsi, khususnya yang berkaitan dengan perempuan dan kelompok rentan.

Sementara itu, Ning Firda Dhomirotul Firdaus menyoroti peran lembaga pendidikan, khususnya pesantren, dalam membangun budaya yang berkeadilan gender. Menurutnya, pendidikan memiliki fungsi preventif yang sangat kuat dalam memutus mata rantai kekerasan, terutama melalui internalisasi nilai moral, etika, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

3

“Pencegahan kekerasan tidak cukup dilakukan melalui pendekatan hukum semata. Pendidikan karakter, keteladanan, dan pembentukan lingkungan yang aman merupakan fondasi utama,” tutur Ning Firda. Ia menegaskan bahwa pesantren memiliki modal sosial dan kultural yang besar dalam menanamkan nilai kesalingan, penghormatan, dan non-kekerasan.

Lebih lanjut, Ning Firda menjelaskan bahwa perspektif keagamaan yang humanis dan berkeadilan dapat menjadi landasan teologis dalam menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, baik fisik, psikis, seksual, maupun simbolik.

Pun, Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIT Lirboyo Kediri, Amalia Rosyadi, M.Med.Kom menambahkan bahwa kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan yang dimulai dari 25 November hingga 10 Desember, bukan berarti hanya diperingati saat itu saja perempuan bebas dari kekerasan verbal maupun nonverbal.

“Perempuan harus mempunyai kesetaraan yang sama, bukan sebagai makhluk domestik yang selalu menjadi bahan untuk eksploitasi negatif di media dan tentunya para perempuan di pondok pesantren. Sehingga akan timbul rasa aman dalam mengemban pendidikan di manapun mereka berada.” pungkas Amel.

Melalui Seminar Nasional HAKTP 2025 ini, UIT Lirboyo Kediri menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan tinggi dalam mengembangkan kajian ilmiah, advokasi, dan edukasi publik terkait isu gender dan perlindungan perempuan. Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong sinergi antara dunia akademik, lembaga penyiaran, dan institusi pendidikan keagamaan dalam membangun budaya sosial yang bebas dari kekerasan dan menjunjung tinggi kesetaraan.

4 5




Mahasiswa UIT Lirboyo Kediri Raih Medali Perunggu Kejuaraan Muaythai Tuban Cup

Muhammad andrianto muathay

Muhammad andrianto muaythai 2Tuban Cup_ Mahasiswa UIT Lirboyo Kediri, berhasil meraih prestasi bidang olah raga kembali setelah wushu sanda, boxing, dan footsal, sekarang mahasiswa bernama Muhammad Andrianto Prodi Pendidikan Agama Islam Semester I, berhasil meraih medali perunggu dalam kejuaraan Muaythai Tuban CUP yang berlangsung 3 hari pada tanggal 28-30 November 2025.

Menurut Andrianto, pihaknya cukup puas dengan hasil yang diraih, persaingan dikelas under 20+50kg itu terbilang ketat, sebab ini perlombaan pertama diluar baginya.

Hasil capaian ini memacu saya untuk berlatih lebih keras lagi agar kedepan bisa meraih prestasi yang bagus. Hasil ini dipersembahkan untuk orang tua yang sudah mendoakan saya selalu, kampus UIT Lirboyo Kediri yang telah memfasilitasi saya dalam berlatih dibawah naungan unit PPBKM”.

Menurut Andri yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan tersebut, dia dan 3 teman-temannya berbagai prodi yang bergelut dalam bidang olahraga Muaythai sedang giat berlatih untuk kompetisi-kompetisi selanjutnya.

Pihak Kampus UIT Lirboyo Kediri menyatakan rasa bangganya atas pencapain tersebut. Kemudian dari pihak pimpinan Tarbiyah, berharap mahasiswanya tersebut tetap semangat dalam berlatih ke depan masih banyak event yang akan diikuti.

Kami mengapresiasi hasil yang diraih Andrianto. Kami berharap, Andri bisa lebih focus lagi dalam berlatih,”ujarnya.

Dengan capaian-capaian prestasi bidang olahraga, UIT Lirboyo Kediri mampu bersaing dengan kampus-kampus lain dan mengepakkan saya dalam bidang prestasi lain. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pembinaan terus-menerus, semangat juang para atlet mahasiswa UIT Lirboyo Kediri, serta kerja keras para pelatihnya diluar dan dukungan berbagai pihak mampu membawa atlet Muaythai UIT Lirboyo Kediri ke level yang lebih tinggi.

Prestasi ini diharapkan menjadi modal penting dalam menatap event-event besar berikutnya.