UIT Lirboyo Kediri Hadir dalam Pembukaan Muktamar Keilmuan Islam Langka di UIN Sunan Ampel Surabaya

Whatsapp image 2025 10 16 at 15.42.18

SURABAYA – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali ilmu-ilmu Islam klasik yang kini mulai jarang diajarkan di perguruan tinggi keagamaan Islam. Hal tersebut disampaikan dalam acara pembukaan Muktamar Keilmuan Islam Langka yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Rabu (15/10/2025).

Whatsapp image 2025 10 16 at 15.42.46

Kegiatan yang diinisiasi oleh UIN Sunan Ampel ini diikuti oleh 192 pimpinan perguruan tinggi Islam di bawah koordinasi Kopertais Wilayah IV Jawa Timur. Hadir pula Wakil Rektor I Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, Dr. H.A. Jauhar Fuad, M.Pd., yang mewakili kampusnya dalam forum ilmiah tersebut.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Muzakki, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Agama terhadap pelestarian ilmu-ilmu Islam klasik. Ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara keilmuan modern dan warisan intelektual para ulama. Empat bidang keilmuan yang menjadi fokus muktamar kali ini adalah ilmu falak, ilmu waris, ilmu huruf (harf), dan ilmu hadis. “Kami terus berupaya menjaga keseimbangan antara ilmu modern dan warisan keilmuan para kiai. Kami akan berdosa jika ilmu-ilmu pesantren yang menjadi ruh keislaman hilang dari kampus Islam,” ujarnya.

Menag Nasaruddin Umar dalam arahannya menyampaikan bahwa ilmu-ilmu tradisional seperti ilmu moral, ilmu mantik (logika), ilmu falak, ilmu waris, dan ilmu hadis merupakan warisan intelektual Islam yang pernah melahirkan masa keemasan peradaban Islam. Namun, kini ilmu-ilmu tersebut mulai terpinggirkan oleh dominasi keilmuan modern.

Salah satu bidang yang menjadi perhatian khusus adalah ilmu ‘arudh’, cabang ilmu yang membahas tentang timbangan syair Arab. Menurut Menag, ilmu ini memiliki kedalaman estetika dan logika bahasa yang tinggi. “Tanpa menguasai ilmu ‘arudh’, sehebat apa pun seseorang berbahasa Arab, ia tidak akan mampu membuat syair. Padahal syair adalah ekspresi budaya Islam yang sarat nilai moral dan keindahan,” jelasnya.

Whatsapp image 2025 10 16 at 15.42.34

Menag juga menyoroti pentingnya ilmu falak, yang menurutnya tidak hanya relevan dalam konteks astronomi, tetapi juga menjadi jalan untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Ia mengutip Surah Fathir ayat 28, yang menyebut bahwa ulama sejati adalah mereka yang memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. “Ilmu falak mengingatkan kita bahwa segala keteraturan di langit dan bumi adalah cermin kekuasaan Allah. Ulama sejati bukan hanya ahli teks, tetapi juga pembaca tanda-tanda alam,” tuturnya.

Selain itu, Menag mengingatkan bahwa ilmu waris termasuk ilmu pertama yang akan hilang dari umat, sebagaimana disebut dalam hadis Nabi. Banyak orang, katanya, menghafal rumus waris, tetapi sedikit yang memahami maknanya secara mendalam dalam konteks hukum modern. “Kita perlu memahami maqasid al-syari’ah, bukan sekadar fiqhnya. Bahkan saya mengusulkan agar maqasid al-syari’ah tidak lagi lima, tetapi enam, dengan tambahan menjaga lingkungan (hifzh al-bi’ah),” tegasnya.

Menutup arahannya, Menag mengajak para dosen dan rektor perguruan tinggi Islam untuk mengajarkan mahasiswa agar tidak hanya memahami kitabullah (teks Al-Qur’an), tetapi juga kalamullah (makna ilahiah di balik teks). “Kitabullah bisa dibaca siapa pun, tetapi Kalamullah hanya dipahami oleh mereka yang bertakwa. Di sinilah tugas perguruan tinggi Islam mengajarkan keduanya secara seimbang,” pungkasnya.

Muktamar Keilmuan Islam Langka ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam klasik serta memperkuat posisi perguruan tinggi Islam sebagai penjaga khazanah intelektual umat.




Miss Communication dalam Dunia Kerja Jadi Sorotan UIT NGAJI Edisi Kelima

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.10 (1)

KEDIRI – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri kembali menggelar program rutin UIT NGAJI (Ngobrol Santai Jamaah Internasional) bekerja sama dengan PCI Nahdlatul Ulama (NU) Hong Kong, pada Sabtu (11/10/2025). Kegiatan yang memasuki edisi kelima ini mengangkat tema “Miss Communication dalam Dunia Kerja” dan diselenggarakan secara daring mulai pukul 09.00–10.00 WIB atau 22.00–23.00 waktu Hong Kong.

Acara dibuka oleh Sekretaris PCI Fatayat NU Hong Kong, Eka Priyatna, dan dipandu oleh Miftachul Aula, M.I.Kom., Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIT Lirboyo Kediri, yang bertindak sebagai moderator. Program UIT NGAJI sendiri merupakan forum rutin setiap Sabtu malam yang menghadirkan dialog ringan namun sarat wawasan, khususnya bagi pekerja migran di luar negeri.

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.09

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UIT Lirboyo Kediri, Dr. H. Jauhar Fuad, M.Pd., yang hadir sebagai keynote speaker, menyoroti berbagai faktor penyebab terjadinya miss communication di dunia kerja. “Kesalahan komunikasi sering muncul karena beberapa hal, di antaranya faktor kelelahan saat menyampaikan pesan, pesan yang terlalu kompleks, pola komunikasi yang tidak konsisten, serta perbedaan persepsi,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya sikap husnudzon (berprasangka baik) dan kebiasaan melakukan klarifikasi dalam setiap proses komunikasi agar kesalahpahaman dapat diminimalisir.

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.11

Sementara itu, Ketua PSGA UIT Lirboyo Kediri, Amalia Rosyadi Putri, S.Kom.I., M.Med.Kom., C.PS., selaku narasumber utama, menjelaskan bahwa komunikasi merupakan fondasi utama dalam dunia kerja. “Namun sering kali, pesan yang disampaikan tidak diterima sebagaimana mestinya. Kondisi inilah yang disebut miss communication — sebuah kegagalan komunikasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik, bahkan menurunkan kinerja tim,” jelasnya.

Amalia memaparkan sejumlah penyebab terjadinya miss communication, seperti perbedaan persepsi dan budaya kerja, hambatan bahasa, asumsi tanpa klarifikasi, tekanan emosional, hingga penggunaan media komunikasi yang kurang tepat. Ia juga menegaskan bahwa dampak miskomunikasi bisa sangat serius, mulai dari penurunan produktivitas, meningkatnya konflik antar rekan kerja, menurunnya kepercayaan, hingga stres dan kelelahan emosional di tempat kerja.

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.10

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.10 (2)

Dalam paparannya, Amalia turut mengutip data dari beberapa penelitian internasional. “Menurut Harvard Business Review (2023), komunikasi yang buruk memperlambat kinerja tim dan membuat 86 persen karyawan merasa stres di tempat kerja. International Labour Organization (ILO, 2021) juga menyebut bahwa hambatan bahasa dan budaya menjadi penyebab utama konflik di kalangan pekerja migran,” ungkapnya. Ia menambahkan hasil penelitian French et al. (2018) yang menunjukkan bahwa masalah pribadi yang terbawa ke tempat kerja turut memperburuk miskomunikasi antar rekan kerja.

Sebagai solusi, Amalia menawarkan sejumlah strategi pencegahan, antara lain melakukan klarifikasi instruksi, memilih media komunikasi yang tepat, melatih kemampuan active listening, membangun empati lintas budaya, serta membiasakan pemberian umpan balik positif di lingkungan kerja.

Kegiatan yang diikuti sekitar 30 peserta, mayoritas merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong, berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Salah satu peserta, Isnani — anggota PCI Fatayat NU Hong Kong — menyampaikan pengalaman pribadinya tentang tantangan komunikasi di lingkungan kerja multikultural. Diskusi pun berlangsung hangat dan saling memperkaya perspektif peserta.

Melalui kegiatan UIT NGAJI ini, PSGA UIT Lirboyo berharap para pekerja migran dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya komunikasi efektif di dunia kerja serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan tercipta lingkungan kerja yang lebih harmonis, produktif, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.12




ISNU Kota Kediri Gelar Sarasehan: Sarjana Santri Didorong Aktif Bangun Negeri

Whatsapp image 2025 10 11 at 19.14.01 (1)

KEDIRI — Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Kediri menggelar sarasehan bertajuk “Kontribusi Sarjana Santri dalam Membangun Negeri” di kampus UIN Syekh Wasil Kediri, Sabtu (11/10/2025). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan dialog bagi kalangan intelektual muda, khususnya sarjana berlatar belakang pesantren, untuk memperkuat peran mereka dalam pembangunan bangsa dan peradaban Islam yang inklusif.

Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh akademisi, pengurus Nahdlatul Ulama, perwakilan pesantren, aktivis, mahasiswa, serta para sarjana muda. Dalam sambutannya, Ketua ISNU Kota Kediri, Prof. Moh. Asror Yusuf, menegaskan bahwa sinergi antara keilmuan modern dan nilai-nilai pesantren merupakan kunci dalam menjawab tantangan zaman. “Sarjana santri memiliki modal ganda intelektual akademik dan kedalaman spiritual. Ini adalah potensi besar untuk membangun peradaban yang berakar pada nilai, namun tetap adaptif terhadap perkembangan global,” ujarnya.

Sarasehan ini menghadirkan beberapa narasumber, yakni Dr. H.A. Jauhar Fuad (LPTNU Jawa Timur dan akademisi Universitas Islam Tribakti Lirboyo), Dr. Robingatun (akademisi UIN Syekh Wasil Kediri), dan Ibnu Qayyim (Dinas Pendidikan Kota Kediri).

Dalam pemaparannya, Dr. Jauhar Fuad menyoroti pentingnya pemberdayaan santri pasca pendidikan formal agar tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga pencipta perubahan sosial dan penggerak kemajuan di berbagai sektor, termasuk pendidikan, ekonomi, dan teknologi. “Melalui ISNU inilah kita berharap banyak,” terangnya.

Whatsapp image 2025 10 11 at 19.14.01

Sementara itu, Dr. Robingatun menambahkan bahwa pembangunan peradaban tidak bisa hanya mengandalkan teknologi dan infrastruktur, melainkan juga harus ditopang oleh moralitas, nilai, dan visi jangka panjang. Menurutnya, santri memiliki posisi strategis dalam mengisi ruang-ruang tersebut. “Peradaban yang besar lahir dari orang-orang yang kuat secara spiritual dan cerdas secara intelektual. Santri, jika diberi ruang dan kesempatan, bisa memainkan peran penting dalam mengisi ruang-ruang strategis bangsa,” ungkapnya.

Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, membahas langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan ISNU dalam mendorong kiprah sarjana santri di tengah masyarakat.

Whatsapp image 2025 10 11 at 19.13.26




Anggota DPR RI dan Akademisi UIT Lirboyo Bahas Pencegahan Perundungan di Pesantren

Whatsapp image 2025 10 11 at 17.36.14

KEDIRI — Pencegahan perundungan atau bullying di lingkungan pesantren menjadi fokus utama dalam seminar bertajuk “Ngopi: Ngobrol Tentang Pendidikan” yang digelar di salah satu hotel di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Kediri, Jumat (10/10/2025). Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama antara Kementerian Agama RI, Komisi VIII DPR RI, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, serta dimoderatori oleh Dr. H. Muhammad Zaini.

Dua narasumber utama, KH. An’im Falachuddin, M.Pd., anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PKB, dan Dr. H.A. Jauhar Fuad, M.Pd., akademisi dari Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, menyampaikan pandangan serta solusi terkait upaya pencegahan perundungan di lingkungan pesantren yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius.

Dalam paparannya, KH. An’im Falachuddin mengungkapkan keprihatinannya atas sejumlah kasus perundungan di pesantren, termasuk insiden tragis yang sempat terjadi di wilayah Kediri. Ia menegaskan pentingnya langkah antisipatif melalui pengawasan ketat dan pembinaan akhlak secara berkelanjutan. “Kasus perundungan di pesantren harus disikapi dengan serius. Kita perlu pengawasan yang ketat dan pendekatan yang manusiawi,” ujarnya.

Menurutnya, sekitar 45 persen santri pernah mengalami perundungan baik fisik maupun nonfisik. Untuk itu, ia mengusulkan tiga langkah strategis pencegahan, yakni penempatan santri senior sebagai pengawas kamar selama 24 jam, pembekalan nilai persaudaraan antar-santri, dan peningkatan kewaspadaan para pengasuh pesantren. “Di setiap kamar berisi 10 hingga 20 santri, perlu ada santri senior yang berfungsi sebagai pengawas intensif selama 24 jam untuk memastikan tidak terjadi perundungan,” jelasnya. Kiai An’im menambahkan bahwa prinsip dasar kehidupan santri harus berlandaskan ukhuwah dan kasih sayang. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Menanggapi anggapan bahwa perundungan merupakan bagian dari tradisi pendidikan pesantren, KH. An’im dengan tegas menolak pandangan tersebut. “Meskipun sempat ada di beberapa tempat seperti Nganjuk, hal itu bukan tradisi umum pesantren. Tidak semua santri memiliki mental yang kuat. Kalau dibiarkan, mereka bisa tidak betah dan pulang,” tegasnya. Ia juga menyoroti perubahan zaman yang menuntut pola pendidikan lebih humanis. Jika dulu bentuk hukuman fisik seperti digundul atau diguyur air comberan dianggap wajar, kini hal itu bisa berimplikasi hukum.

“Kalau dulu hukuman fisik seperti digundul atau diguyur air comberan bisa diterima, sekarang hal itu bisa menimbulkan masalah hukum,” ujarnya. Ia menegaskan, pencegahan perundungan harus berjalan seiring dengan penegakan aturan tanpa menghilangkan nilai kedisiplinan khas pesantren.

Whatsapp image 2025 10 11 at 17.36.15

Selain itu, Kiai An’im menyoroti perundungan digital di media sosial yang bisa berujung pada permusuhan. Ia mengingatkan pentingnya etika bermedia bagi santri. “Santri harus bisa menjaga sikap di media sosial. Jangan sampai tangan lebih cepat daripada akal sehat,” pesannya.

Sementara itu, Dr. H.A. Jauhar Fuad, M.Pd., dari Universitas Islam Tribakti Lirboyo, menilai potensi perundungan di pesantren kini semakin kecil seiring penguatan sistem pengawasan internal. “Kalau melihat dari indikator yang saya paparkan, saya kira hari ini di pesantren tidak terjadi perundungan yang berarti. Karena di setiap kamar ada pembina, biasanya santri senior yang sudah lulus dan diminta mengabdi di pondok,” jelasnya. Ia mencontohkan sistem pengabdian di Pondok Pesantren Lirboyo dan Al Mahrusiyah Kediri, di mana santri yang telah lulus diwajibkan mengabdi minimal satu tahun sebelum meninggalkan pondok. “Selain membantu pengajaran kitab dan pendampingan belajar Al-Qur’an, mereka juga berperan mengawasi perilaku santri baru agar tidak ada potensi perundungan,” tambahnya.

Whatsapp image 2025 10 11 at 17.36.16

Menurut Jauhar, sistem tersebut menciptakan pengawasan berlapis dan menjadikan suasana pesantren lebih edukatif serta manusiawi. “Era dulu dan sekarang berbeda jauh. Kalau dulu hubungan senior-junior kadang keras, kini lebih edukatif. Sistem pengabdian membuat suasana lebih manusiawi dan terarah,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa perundungan tidak hanya terjadi antar-santri, tetapi juga bisa muncul dalam relasi guru dan santri. “Perundungan itu perilaku tidak menyenangkan, baik verbal, fisik, maupun sosial, di dunia nyata atau media sosial, yang membuat seseorang merasa sakit hati, tertekan, atau tidak nyaman,” jelasnya.

Ia menegaskan pentingnya menjaga komunikasi yang sehat dan saling menghormati. “Kata-kata kasar, ejekan, pengucilan, atau gosip di media sosial juga bentuk perundungan,” tegasnya.

Jauhar menutup dengan penegasan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan moral. “Pesantren adalah tempat pembentukan karakter. Lingkungan ini harus aman bagi siapa pun yang belajar di dalamnya,” pungkasnya.




UIT Lirboyo Kediri Gencarkan Literasi dan Inklusi Keuangan Bersama PT BTN Kantor Cabang Kediri

Whatsapp image 2025 10 10 at 09.42.26

Kediri – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri mendapat kesempatan yang luar biasa dengan diselenggarakannya kegiatan Literasi dan Inklusi Keuangan Gencarkan (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Kantor Cabang Kediri.

Acara yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan ini, sukses digelar pada Kamis, 9 Oktober 2025, pukul 09.00 hingga 12.00 WIB di Aula Mahrus Aly UIT Lirboyo Kediri.

Kegiatan edukatif ini diikuti oleh mahasiswa FEB UIT Lirboyo Kediri, baik dari Program Studi Perbankan Syariah maupun Ekonomi Syariah, dengan total peserta mencapai kurang lebih 200 mahasiswa. Kehadiran PT BTN KC Kediri memberikan wawasan langsung mengenai pentingnya pengelolaan keuangan yang cerdas di era digital.

Ibu Debby Cintya Dewi, selaku Wakil Kepala Cabang PT BTN KC Kediri, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat dan kesempatan yang diberikan oleh FEB UIT Lirboyo Kediri untuk menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan ini di lingkungan kampus. Beliau berharap materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat nyata bagi para mahasiswa sebagai calon generasi cerdas finansial.

Sementara itu, Bapak Dr. H. A. Jauhar Fuad, M.Pd., selaku Wakil Rektor I, menyampaikan apresiasi tinggi atas kegiatan yang dilaksanakan PT BTN KC Kediri. Beliau juga berharap agar kerjasama yang telah terjalin ini tidak berhenti sampai di sini, namun dapat terus berlanjut dan berkembang dalam bentuk kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya bagi mahasiswa dan sivitas akademika FEB UIT Lirboyo Kediri.

Melalui kegiatan Literasi Keuangan Gencarkan ini, diharapkan para mahasiswa FEB UIT Lirboyo Kediri memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola keuangan pribadi, serta mampu memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan secara bijak untuk masa depan yang lebih terencana dan stabil.

Whatsapp image 2025 10 10 at 09.42.26 (1)

Whatsapp image 2025 10 09 at 10.03.37