UIT Lirboyo Kediri Hadir dalam Pembukaan Muktamar Keilmuan Islam Langka di UIN Sunan Ampel Surabaya

SURABAYA – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali ilmu-ilmu Islam klasik yang kini mulai jarang diajarkan di perguruan tinggi keagamaan Islam. Hal tersebut disampaikan dalam acara pembukaan Muktamar Keilmuan Islam Langka yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Rabu (15/10/2025).

Kegiatan yang diinisiasi oleh UIN Sunan Ampel ini diikuti oleh 192 pimpinan perguruan tinggi Islam di bawah koordinasi Kopertais Wilayah IV Jawa Timur. Hadir pula Wakil Rektor I Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, Dr. H.A. Jauhar Fuad, M.Pd., yang mewakili kampusnya dalam forum ilmiah tersebut.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Muzakki, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Agama terhadap pelestarian ilmu-ilmu Islam klasik. Ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara keilmuan modern dan warisan intelektual para ulama. Empat bidang keilmuan yang menjadi fokus muktamar kali ini adalah ilmu falak, ilmu waris, ilmu huruf (harf), dan ilmu hadis. “Kami terus berupaya menjaga keseimbangan antara ilmu modern dan warisan keilmuan para kiai. Kami akan berdosa jika ilmu-ilmu pesantren yang menjadi ruh keislaman hilang dari kampus Islam,” ujarnya.
Menag Nasaruddin Umar dalam arahannya menyampaikan bahwa ilmu-ilmu tradisional seperti ilmu moral, ilmu mantik (logika), ilmu falak, ilmu waris, dan ilmu hadis merupakan warisan intelektual Islam yang pernah melahirkan masa keemasan peradaban Islam. Namun, kini ilmu-ilmu tersebut mulai terpinggirkan oleh dominasi keilmuan modern.
Salah satu bidang yang menjadi perhatian khusus adalah ilmu ‘arudh’, cabang ilmu yang membahas tentang timbangan syair Arab. Menurut Menag, ilmu ini memiliki kedalaman estetika dan logika bahasa yang tinggi. “Tanpa menguasai ilmu ‘arudh’, sehebat apa pun seseorang berbahasa Arab, ia tidak akan mampu membuat syair. Padahal syair adalah ekspresi budaya Islam yang sarat nilai moral dan keindahan,” jelasnya.

Menag juga menyoroti pentingnya ilmu falak, yang menurutnya tidak hanya relevan dalam konteks astronomi, tetapi juga menjadi jalan untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Ia mengutip Surah Fathir ayat 28, yang menyebut bahwa ulama sejati adalah mereka yang memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. “Ilmu falak mengingatkan kita bahwa segala keteraturan di langit dan bumi adalah cermin kekuasaan Allah. Ulama sejati bukan hanya ahli teks, tetapi juga pembaca tanda-tanda alam,” tuturnya.
Selain itu, Menag mengingatkan bahwa ilmu waris termasuk ilmu pertama yang akan hilang dari umat, sebagaimana disebut dalam hadis Nabi. Banyak orang, katanya, menghafal rumus waris, tetapi sedikit yang memahami maknanya secara mendalam dalam konteks hukum modern. “Kita perlu memahami maqasid al-syari’ah, bukan sekadar fiqhnya. Bahkan saya mengusulkan agar maqasid al-syari’ah tidak lagi lima, tetapi enam, dengan tambahan menjaga lingkungan (hifzh al-bi’ah),” tegasnya.
Menutup arahannya, Menag mengajak para dosen dan rektor perguruan tinggi Islam untuk mengajarkan mahasiswa agar tidak hanya memahami kitabullah (teks Al-Qur’an), tetapi juga kalamullah (makna ilahiah di balik teks). “Kitabullah bisa dibaca siapa pun, tetapi Kalamullah hanya dipahami oleh mereka yang bertakwa. Di sinilah tugas perguruan tinggi Islam mengajarkan keduanya secara seimbang,” pungkasnya.
Muktamar Keilmuan Islam Langka ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam klasik serta memperkuat posisi perguruan tinggi Islam sebagai penjaga khazanah intelektual umat.














