Kediri – Dalam suasana penuh khidmat, Pusat Studi Gender & Anak Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo kembali menghadirkan TSAQIFA: Talkshow Fiqih Wanita, Kamis (25/9/2025). Bertempat di Ruang Dosen UIT, forum ini mengupas tema “Wanita-Wanita Tangguh di Sekitar Rasulullah SAW” bersama Hj. Etna Iyyana Miskiyyah Lc., M.Pd.I, Pengasuh Pondok Al Mahrusiyah Lirboyo.
Yang menarik, Hj. Etna tidak hanya menghadirkan kisah populer seputar sahabiyah, tetapi juga memaparkan secara sistematis bagaimana para perempuan di rumah Nabi—nisa’ fi baitin Nabi—menjadi teladan besar dalam Islam. Ia membaginya ke dalam tiga kategori utama:
1. Ummun Nabi
Perempuan yang paling mulia dan menjadi sumber kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak lahir adalah ibundanya, Aminah binti Wahab. Meski hanya sebentar mendampingi Rasulullah kecil, ketulusan cinta seorang ibu menjadi fondasi awal yang menguatkan perjalanan beliau. Dari sosok Aminah, kita belajar tentang kasih yang murni dan doa yang abadi.
2. Zaujatun Nabi
Para istri Rasulullah SAW tidak sekadar menjadi pendamping rumah tangga, melainkan pilar perjuangan dakwah. Khadijah binti Khuwailid dikenal sebagai penopang utama dakwah Nabi dengan dukungan moril dan materiil yang luar biasa. Sementara Aisyah binti Abu Bakar tampil sebagai sosok cerdas, penghafal hadis, dan pengajar ulung bagi generasi setelahnya. Masing-masing memiliki peran unik, namun semua menyatu dalam kekuatan mendampingi perjuangan Rasulullah.
3. Banatun Nabi
Putri-putri Rasulullah SAW pun meninggalkan jejak inspiratif. Fatimah az-Zahra, misalnya, bukan hanya dikenal karena kelembutan dan keteguhan hatinya, tetapi juga keberaniannya menghadapi tantangan hidup. Dari Fatimah, lahirlah keturunan mulia yang melanjutkan cahaya perjuangan Rasulullah.
“Perempuan di rumah Nabi adalah cermin bagi kita. Mereka bukan hanya bagian dari sejarah keluarga Rasulullah, tetapi juga teladan sepanjang masa—tentang bagaimana seorang perempuan bisa kuat, berdaya, dan tetap penuh kasih sayang,” tegas Ning Etna di hadapan peserta.
Talkshow ini dipandu oleh Yunia Dwi Latifah, S.E., M.Pd., Kaprodi PAI UIT, yang piawai membawa suasana menjadi cair namun tetap fokus pada substansi. Ia membuka ruang tanya jawab, mendorong audiens untuk lebih dari sekadar mendengar, tetapi juga berdialog dan merefleksikan makna.
Dalam sesi diskusi, salah seorang audiens melontarkan pertanyaan:
“Bagaimana sebenarnya dengan dakwah perempuan? Ada yang mengatakan suara wanita itu aurat. Apakah perempuan boleh menjadi muballighah?”
Pertanyaan tersebut merujuk pada hadis populer “al-mar’atu ‘aurah” yang sering ditafsirkan keliru sebagai larangan mutlak bagi perempuan untuk tampil di ruang publik. Menanggapi hal itu, Hj. Etna menegaskan bahwa pemahaman harus diletakkan secara proporsional. “Perempuan boleh berdakwah, boleh menjadi muballighah. Rasulullah SAW sendiri memberi ruang itu, terbukti dengan sosok Sayyidah Aisyah yang menjadi guru besar bagi para sahabat. Hanya saja, tetap ada batasnya. Ketika berbicara, jangan dibuat mendayu-dayu sehingga menimbulkan fitnah,” jelasnya.
Menurutnya, suara perempuan bukanlah aurat selama disampaikan dengan wajar dan untuk tujuan yang benar. Dakwah perempuan justru dibutuhkan di banyak ruang, khususnya dalam pendidikan, keluarga, dan masyarakat. “Yang dilarang itu adalah cara bicara yang dilembut-lembutkan untuk menarik perhatian lawan jenis. Selama berbicara tegas, jelas, dan pada tempatnya, tidak ada masalah,” tambahnya.
Tidak hanya menambah wawasan fiqih, TSAQIFA kali ini menghadirkan kesadaran baru: bahwa kisah para wanita di sekitar Rasulullah SAW bukan sekadar cerita sejarah, melainkan potret nyata ketangguhan yang relevan dengan zaman ini. Dari ketabahan Khadijah, kecerdasan Aisyah, hingga keberanian Ummu Salamah, semua menghadirkan pesan abadi—bahwa perempuan dapat menjadi pilar perubahan, penjaga nilai, sekaligus penentu arah perjalanan umat.
Di tengah derasnya arus modernitas, TSAQIFA mencoba menghubungkan kembali generasi hari ini dengan nilai-nilai klasik Islam. Bukan untuk mengurung peran perempuan, tetapi justru menegaskan ruang luas yang bisa ditempuh: kuat dalam pendirian, lembut dalam sikap, dan berdaya untuk memberi manfaat seluas-luasnya.
Lebih dari sekadar forum akademis, TSAQIFA kali ini menjadi ruang inspirasi. Ruang di mana sejarah bukan hanya diulang, tetapi dihidupkan kembali untuk memberi cahaya dalam perjalanan perempuan masa kini—agar tetap tegar, berani, dan yakin menapaki jalan kebaikan.


Penulis Amalia Rosyadi
Editor sarah Aqila