UIT NGAJI Angkat Tema “Saat Lelah Menjadi Cerita”

4.0

Sabtu, 4 Oktober 2025 UIT Ngaji, kolaborasi Pusat Studi Gender yang ketuanya adalah Amalia Rosyadi Putri, M.Med  dan PCI NU Hongkong. Akhir pekan yang syahdu ditemani oleh narasumber bu Uswatun Hasanah, M.Psi. Beliau adalah dosen di program studi psikologi islam dan ketua Lembaga Psikologi Terapan (LPT) di UIT Lirboyo Kediri. Mengusung tema “Saat Lelah Menjadi Cerita”.

4.1

Rutinan UIT Ngaji dipandu oleh host yakni bu Yayuk Yuliani Wahyuningtyas selaku Ketua PCI Fatayat NU Hongkong dan moderator muda, Ika Novita Sari, M.Psi., Psikolog. Topik kali ini sangat relate dengan kehidupan pengalaman para pejuang migrans di tanah rantau. Ada yang merasa membutuhkan ruang cerita saat lelah namun yang ada rasa kecewa dan trauma. Bu Uswatun menuturkan bahwa, bahagia adalah pilihan dan memaafkan adalah melegakan. Kemelut yang muncul dalam pikiran seolah tak terbendung namun raga tak mampu menjangkau, maka menerima dengan lapang dan bersyukur dapat menjadi obat atas lelah yang dirasakan.

Pertanyaan yang dilontarkan oleh audiens UIT Ngaji, “gimana caranya bisa bercerita ke orang lain sedangkan orang yang kita percaya malah mengkhianati”. Bu Uswatun menambahkan bahwa, lagi-lagi memafkan bu, memaafkan berarti melegakan, melepas emosi negatif yang membatu. Pertanyaan senada bahwa “sudah bercerita pada suami namun nggak paham-paham suami saya , saya lantas gimana?”. Carilah waktu yang tepat untuk cerita. Positif thinking, kemungkinan pasangan sedang lelah juga, pungkas bu Uswatun.

4.24.3

Penutup yang menyejukkan dari audiens menyampaikan “saya merasakan kelegaan, ketenangan dan kedamaian ketika sudah berhasil cerita dengan ibu dan memandangi sosoknya secara virtual”. Begitu luar biasa antusias para audiens yang kemudian ditutup dengan Do’a oleh Bapak Dr. Syafik Ubaidila, M.Pd dengan penuh hikmat.




DOSEN UIT MENJADI NARASUMBR GELORA KEMENAG KAB. KEDIRI

44

Kediri (Humas) – Kementerian Agama Kabupaten Kediri melalui Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) menggelar acara GELORA Ekonomi Umat (Gerakan Kolaborasi untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Ekoteologi) di Dusun Laharpang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, pada Kamis, 2 Oktober 2025. Kegiatan ini mengangkat tema “Alam Lestari, Umat Mandiri, Amal Bhakti untuk Negeri.”

Acara dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kediri, H. Ahmad Faiz, S.Ag., M.H.I, dengan Pembinaan dan memberikan santunan paket sembako kepada warga kurang mampu di Dusun Laharpang. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama untuk menguatkan kemandirian ekonomi umat sekaligus menumbuhkan kesadaran menjaga kelestarian alam.

“Program ini adalah bentuk kepedulian kita, bagaimana umat bisa mandiri secara ekonomi dan sekaligus peduli terhadap kelestarian lingkungan sebagaimana ajaran agama yang kita yakini bersama,” tutur H. Ahmad Faiz.
4.2
Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Bimas Islam, Penyelenggara Zakat dan Wakaf (ZAWA), Penyelenggara Kristen, serta Penyelenggara Katolik. Kehadiran lintas unsur ini menjadi simbol sinergi bersama dalam pemberdayaan umat berbasis ekoteologi.

Dalam rangkaian kegiatan, panitia menghadirkan dua narasumber. Imam Syafii, praktisi desain dan packaging produk, memberikan coaching clinic untuk UMKM lokal. Ia menekankan pentingnya desain kemasan yang menarik agar produk warga Dusun Laharpang memiliki daya tawar lebih baik di pasar.

Sesi berikutnya diisi oleh Dr. Abbas Sofwan, dosen Prodi HKi dan pakar Fikih Ekologi, yang membawakan materi Ekoteologi, Konservasi Lingkungan, dan Basis Pemberdayaan Ekonomi Umat. Dalam dialognya, Dr. Abbas menekankan bahwa merawat alam bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga bernilai ibadah dan memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan ekonomi masyarakat.
“Nabi Muhammad SAW telah memberikan teladan bagaimana menjaga kebersihan, merawat air, dan berkomunikasi dengan alam. Hal-hal sederhana seperti mengelola sampah rumah tangga, menanam pohon, dan menjaga sumber air adalah investasi besar bagi keberlanjutan bumi dan kemandirian ekonomi umat,” jelas Dr. Abbas.
4.1
Melalui kegiatan GELORA Ekonomi Umat, diharapkan masyarakat Dusun Laharpang dapat semakin mandiri secara ekonomi sekaligus membangun kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan. Sinergi antara ekonomi umat dan fikih ekologi menjadi fondasi kuat untuk menguatkan amal bhakti bagi negeri.




TSAQIFA “Talkshow Fiqih Wanita ” Event rutin PSGA UIT Angkat Keteladanan Nisa’ fi Baitin Nabi

4 2

Kediri – Dalam suasana penuh khidmat, Pusat Studi Gender & Anak Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo kembali menghadirkan TSAQIFA: Talkshow Fiqih Wanita, Kamis (25/9/2025). Bertempat di Ruang Dosen UIT, forum ini mengupas tema “Wanita-Wanita Tangguh di Sekitar Rasulullah SAW” bersama Hj. Etna Iyyana Miskiyyah Lc., M.Pd.I, Pengasuh Pondok Al Mahrusiyah Lirboyo.

Yang menarik, Hj. Etna tidak hanya menghadirkan kisah populer seputar sahabiyah, tetapi juga memaparkan secara sistematis bagaimana para perempuan di rumah Nabi—nisa’ fi baitin Nabi—menjadi teladan besar dalam Islam. Ia membaginya ke dalam tiga kategori utama:
1. Ummun Nabi
Perempuan yang paling mulia dan menjadi sumber kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak lahir adalah ibundanya, Aminah binti Wahab. Meski hanya sebentar mendampingi Rasulullah kecil, ketulusan cinta seorang ibu menjadi fondasi awal yang menguatkan perjalanan beliau. Dari sosok Aminah, kita belajar tentang kasih yang murni dan doa yang abadi.
2. Zaujatun Nabi
Para istri Rasulullah SAW tidak sekadar menjadi pendamping rumah tangga, melainkan pilar perjuangan dakwah. Khadijah binti Khuwailid dikenal sebagai penopang utama dakwah Nabi dengan dukungan moril dan materiil yang luar biasa. Sementara Aisyah binti Abu Bakar tampil sebagai sosok cerdas, penghafal hadis, dan pengajar ulung bagi generasi setelahnya. Masing-masing memiliki peran unik, namun semua menyatu dalam kekuatan mendampingi perjuangan Rasulullah.
3. Banatun Nabi
Putri-putri Rasulullah SAW pun meninggalkan jejak inspiratif. Fatimah az-Zahra, misalnya, bukan hanya dikenal karena kelembutan dan keteguhan hatinya, tetapi juga keberaniannya menghadapi tantangan hidup. Dari Fatimah, lahirlah keturunan mulia yang melanjutkan cahaya perjuangan Rasulullah.

“Perempuan di rumah Nabi adalah cermin bagi kita. Mereka bukan hanya bagian dari sejarah keluarga Rasulullah, tetapi juga teladan sepanjang masa—tentang bagaimana seorang perempuan bisa kuat, berdaya, dan tetap penuh kasih sayang,” tegas Ning Etna di hadapan peserta.

Talkshow ini dipandu oleh Yunia Dwi Latifah, S.E., M.Pd., Kaprodi PAI UIT, yang piawai membawa suasana menjadi cair namun tetap fokus pada substansi. Ia membuka ruang tanya jawab, mendorong audiens untuk lebih dari sekadar mendengar, tetapi juga berdialog dan merefleksikan makna.

Dalam sesi diskusi, salah seorang audiens melontarkan pertanyaan:
“Bagaimana sebenarnya dengan dakwah perempuan? Ada yang mengatakan suara wanita itu aurat. Apakah perempuan boleh menjadi muballighah?”

Pertanyaan tersebut merujuk pada hadis populer “al-mar’atu ‘aurah” yang sering ditafsirkan keliru sebagai larangan mutlak bagi perempuan untuk tampil di ruang publik. Menanggapi hal itu, Hj. Etna menegaskan bahwa pemahaman harus diletakkan secara proporsional. “Perempuan boleh berdakwah, boleh menjadi muballighah. Rasulullah SAW sendiri memberi ruang itu, terbukti dengan sosok Sayyidah Aisyah yang menjadi guru besar bagi para sahabat. Hanya saja, tetap ada batasnya. Ketika berbicara, jangan dibuat mendayu-dayu sehingga menimbulkan fitnah,” jelasnya.

Menurutnya, suara perempuan bukanlah aurat selama disampaikan dengan wajar dan untuk tujuan yang benar. Dakwah perempuan justru dibutuhkan di banyak ruang, khususnya dalam pendidikan, keluarga, dan masyarakat. “Yang dilarang itu adalah cara bicara yang dilembut-lembutkan untuk menarik perhatian lawan jenis. Selama berbicara tegas, jelas, dan pada tempatnya, tidak ada masalah,” tambahnya.

Tidak hanya menambah wawasan fiqih, TSAQIFA kali ini menghadirkan kesadaran baru: bahwa kisah para wanita di sekitar Rasulullah SAW bukan sekadar cerita sejarah, melainkan potret nyata ketangguhan yang relevan dengan zaman ini. Dari ketabahan Khadijah, kecerdasan Aisyah, hingga keberanian Ummu Salamah, semua menghadirkan pesan abadi—bahwa perempuan dapat menjadi pilar perubahan, penjaga nilai, sekaligus penentu arah perjalanan umat.

Di tengah derasnya arus modernitas, TSAQIFA mencoba menghubungkan kembali generasi hari ini dengan nilai-nilai klasik Islam. Bukan untuk mengurung peran perempuan, tetapi justru menegaskan ruang luas yang bisa ditempuh: kuat dalam pendirian, lembut dalam sikap, dan berdaya untuk memberi manfaat seluas-luasnya.

Lebih dari sekadar forum akademis, TSAQIFA kali ini menjadi ruang inspirasi. Ruang di mana sejarah bukan hanya diulang, tetapi dihidupkan kembali untuk memberi cahaya dalam perjalanan perempuan masa kini—agar tetap tegar, berani, dan yakin menapaki jalan kebaikan.
4 1

4 4

Penulis Amalia Rosyadi
Editor sarah Aqila




Kopertais Wilayah IV Jawa Timur Dorong Peningkatan Mutu PTKIS melalui Pemetaan Akreditasi

Whatsapp image 2025 09 29 at 07.51.02

Sidoarjo, 27 September 2024 — Kopertais Wilayah IV Surabaya menggelar kegiatan Pemetaan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) yang bertempat di GreenSA Inn UIN Sunan Ampel, Sidoarjo. Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mendorong peningkatan mutu dan akreditasi institusi PTKIS di wilayah Jawa Timur, yang saat ini berjumlah 192 perguruan tinggi di bawah naungan Kopertais Wilayah IV.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Koordinator Kopertais Wilayah IV, Dr. H. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., bersama Sekretaris Kopertais Wilayah IV, Dr. H. M. Hasan Ubaidillah, S.HI., M.Si., serta Tim Ahli Kopertais Wilayah IV, Achmad Fauzi, M.Pd. Hadir pula perwakilan dari berbagai institusi pendidikan tinggi keagamaan Islam, khususnya dari wilayah Mataraman dan Madura. Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini, yang diwakili oleh Wakil Rektor II, Dr. M. Arif Khoiruddin, S.Sos.I., M.Pd.I., dan Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Lathifatul Fajriyah, M.Pd.

Rangkaian kegiatan dibagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama mengangkat tema “Akreditasi PTKIS: Membangun Ekosistem Mutu Berkelanjutan”, yang menekankan pentingnya budaya mutu dalam tata kelola perguruan tinggi. Sesi kedua membahas “Pemetaan Akreditasi Program Berbasis LAM”, yang fokus pada strategi menghadapi akreditasi berbasis Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) yang kini menjadi standar nasional. Sementara itu, sesi ketiga berupa diskusi panel dan tanya jawab dengan tema “Kompilasi Kebutuhan Akreditasi Prodi LAM”, di mana para peserta berkesempatan menyampaikan berbagai kebutuhan, tantangan, serta strategi akreditasi program studi.

Whatsapp image 2025 09 29 at 07.50.12Kegiatan ini ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut sebagai bentuk komitmen bersama dalam peningkatan kualitas dan daya saing PTKIS. Kopertais Wilayah IV berharap, melalui pemetaan ini, setiap institusi mampu melakukan evaluasi diri secara komprehensif serta menyiapkan langkah-langkah nyata menuju akreditasi unggul, baik di tingkat institusi maupun program studi.




UIT NGAJI Angkat Tema Kesehatan Mental di Tempat Kerja Bersama PCINU Hongkong

Gambar whatsapp 2025 09 30 pukul 11.49.34 ab09d22b

Hongkong (27/09/2025) – Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo terus menunjukkan komitmennya dalam menguatkan literasi keagamaan dan sosial melalui program rutin UIT NGAJI (Ngobrol Santai Jamaah Internasional). Program ini dilaksanakan setiap malam Minggu secara virtual dengan menghadirkan jamaah lintas negara. Pada Sabtu, 27 September, acara bertepatan dengan kolaborasi bersama Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Hongkong dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) .

Photo 2025 09 29 22 33 17

Acara diawali dengan sambutan pembuka oleh Ibu Yayuk, Ketua Fatayat Istimewa Hongkong, yang menegaskan pentingnya kegiatan seperti ini dalam memperkuat jaringan jamaah internasional. Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada UIT Lirboyo yang konsisten memfasilitasi ruang belajar dan diskusi untuk masyarakat Indonesia di luar negeri.

Diskusi kemudian dimoderatori oleh Dwita Nurulita, M.Pd., yang dengan piawai mengarahkan jalannya obrolan agar tetap hidup, santai, namun tetap fokus pada substansi. Narasumber utama, Ibu Beti Malia Rahma Hidayati, M.Psi., Psikolog, hadir dengan materi yang sangat relevan dengan kebutuhan para pekerja migran dan masyarakat umum, yaitu “Kesehatan Mental di Tempat Kerja.”

Photo 2025 09 29 22 33 21 Photo 2025 09 29 22 33 08

Dalam pemaparannya, Ibu Beti menjelaskan bahwa isu kesehatan mental bukan lagi hal yang bisa dipandang sebelah mata. “Menciptakan ruang kerja yang sehat secara psikologis adalah suatu keharusan. Namun, semua itu bermula dari diri sendiri, terutama dengan mengenali potensi, batas, dan kebutuhan pribadi,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membangun afirmasi positif setiap hari.

Peserta terlihat antusias mengikuti acara. Diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pertanyaan dan pengalaman yang dibagikan oleh jamaah. Hal ini menunjukkan bahwa tema kesehatan mental sangat dekat dengan realitas pekerja migran yang menghadapi tekanan kerja, kerinduan pada keluarga, serta tantangan adaptasi di lingkungan baru.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Didi, Wakil Ketua Tanfidziyah PCINU Hongkong. Dalam doanya, beliau berharap semoga seluruh jamaah diberi kekuatan lahir dan batin, serta senantiasa sehat baik jasmani maupun rohani dalam menunaikan amanah pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Melalui UIT NGAJI, UIT Lirboyo tidak hanya membangun ruang diskusi santai, tetapi juga menghadirkan wadah pembelajaran yang inspiratif dan aplikatif. Kolaborasi dengan PCINU Hongkong menjadi bukti nyata sinergi antar lembaga dalam menguatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kesehatan mental, terutama di lingkungan kerja.