Ikut Konferensi Internasional, Mahasiswa UIT Lirboyo Kediri Eksplor Pemikiran Santri dan Khazanah Pesantren

WhatsApp Image 2024 10 07 at 12.27.58 7ad6d122

Ponorogo,- Enam Mahasiswa Strata-1 Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri mengikuti konferensi Internasional dalam ajang 2nd SIIR Santren Symposium 2024 pada Sabtu, 5 Oktober 2024 di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo. Acara ini bertema “Trajectory Visi Kemanusiaan Sarjana NU” yang diselenggarakan oleh ISNU Ponorogo bekerjasama dengan ISNU Wilayah Jawa Timur.  Turut hadir  juga keynote speaker Prof. M. Mas’ud Said selaku ketua ISNU Jawa Timur, Prof Rudiger Lokhker dari Universitas Viena Austria, Adnan Sohail dari Minhaj Walfare Foundantion serta, Prof. Ahmad Sunawari Long dari Universitas Kebangsaan Malasyia. Agenda ini menjadi salah satu program rangkain perayaan  Hari Santri Nasional dengan menghadirkan pola pemikiran santri untuk kemajuan pesantren terhadap negeri Indonesia sendiri.

Salma Mawaddah Masudi bersama reviewr paper Prof. Aksin Wijaya M.Ag season panelis.

Keenam mahasiswa yang mengikuti konferensi Internasional sekaligus  lauching buku Antologi NU yang telah lulus seleksi paper yang sebelumnya telah dikirim dan sudah melalui tahap review ketat dari pihak penyelenggara. Keenam mahasiswa tersebut bernama: Salma Mawaddah Mas’udi (HKI/5), Rahmad Ikbal Devid (PAI/5), M. Zulkhoirian Syahri (PAI/5), M. Rijalul Fikri (PAI/3), Arifatul Mufitda (PAI/3) dan Dwita Nurulita (PAscasarjana). Salah satu diantara mereka yakni Salma menjelaskan tentang kebijakan politik dan hukum dalam menangani kasus Rohingya yang sempat ramai diawal tahun 2024 dihadapan reviewr ahlinya yaitu Prof. Aksin Wijaya M.Ag yang dipresentasikan di IAIN Ponorogo.

Keberangkatan mahasiswa S-1 ini menjadikan pondasi bagi mereka untuk mendalami dunia riset dan research terbaru yang kemudian diarahkan pada event konferensi nasional atau internasional untuk mempertajam riset dan keilmuannya. Hal yang menjadi tantangan menurut mahasiswa yaitu peserta konferensi mayoritas dari kalangan dosen dan peneliti, untuk itu mereka mengaku berusaha lebih untuk mengimbangi saat berdiskusi.

Terutama mahasiswa bagi mahasiswa semester 3, pertama kali lolos mengaku mendapatkan pengalaman luar biasa setelah mengikuti konferensi ini karena ia dapat berkumpul dan berdiskusi bersama peserta lain  dari seluruh Indonesia.




Tiga Dosen UIT Tribakti Lirboyo: Unjuk Gigi Dalam International Symposium on Innovative Masjid 2024

2

Symposium Innovative Masjid merupakan ajang bergengsi yang memberikan informasi, pengetahuan, dan pendidikan masjid ramah lingkungan. Masjid ramah lingkungan menjadi tema pada acara symposium internasional. Berbagai narasumber yang ecpert di bidang masjid ramah lingkungan memaparkan hasil risetnya. Masjid-masjid yang dikelola secara inovatif ramah lingkungan memberikan kontribusi positif terhadap peradaban manusia. Para ahli ecomasjid friendly menyoroti berbagai hal dalam pengelolaan masjid masa depan. Sorotan tersebut mulai dari penggunaan energi ramah lingkungan, pengelolaan air wudhu, desain arsitektur masjid ramah lingkungan, pemanfaatan pohon peneduh di lingkungan masjid, dan pengembangan pemakmuran masjid yang lebih kreatif. Hadir pada acara International Symposium Innovative Masjid tersebut dosen Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri Dr. Abbas Matlai’l Fajar, MHI, LLM. Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. serta Dr. Ahmad Haq Alhaedary. Dosen Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri terpilih papernya secara internasional untuk menyampaikan inovasi dan transformasi masjid ramah lingkungan. Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. mengusung tema “Ecomasjid Management in the Mataram Era (Study of the Historical Mosque of Abu Mansyur Mosque, Tawangsari Village, Tulungagung Regency)”, dan Dr. Abbas Matlai’l Fajar, MHI, LLM, bersama Dr. Ahmad Haq Alhaedary mengusung “Masjid Ramah Lingkungan Berbasis Nilai-Nilai Lokal: Rekonstruksi Warisan Budaya Muslim Jawa Dalam Konservasi Air Untuk Masjid”.

International Symposium Innovative Masjid dibuka dengan prolog pentingnya mitigasi global warming. Acara Symposium Innovative Masjid ramah lingkungan dibuka oleh Dr. Ahmad Zayadi. Beliau memberikan pesan agar masjid-masjid menjadi tempat ibadah yang nyaman dan ramah bagi lingkungan. Transformasi masjid percontohan dan ramah di seluruh Indonesia akan menjadi media belajar bagi masjid di seluruh Indonesia. Harapannya masjid-masjid di seluruh Indonesia menjadi masjid ramah bagi semua masyarakat. Agama memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada masyarakat perihal menjaga kelestarian lingkungan. Masjid merupakan central kegiatan masyarakat Islam di Indonesia. Terdapat ivent-ivent besar yang dilakukan di masjid yang mengumpulka masa. Maka momentum tersebut menjadi media yang tepat agar masjid menjadi sarana percontohan nyata dalam memberikan pemahaman betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui masjid percontohan dan ramah lingkungan.

Acara International Symposium Innovative Masjid dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ruth Faber, yang menyoroti permasalahan utama transformasi gereja ramah lingkungan di antaranya finansial dan keyakinan fungsi gereja murni sebagai tempat ibadah. Maka diperlukan usaha dan kreativitas serta edukasi secara kontinue untuk mencari solusi. Sementera itu Faisal Rumiati imam Masjid She Zayid menyatakan, membangun masjid bukan hanya material, tetapi ada unsur hati yang taqwa. Pondasi membangun masjid adalah taqwa. Bentuk dari taqwa tersebut, yakni menjauhkan masjid dari kemungkaran. Maka masjid ramah lingkungan atau ramah bagi semua manusia menjadi bentuk masjid yang dibangun dengan unsur taqwa. Sementara itu Prof. Nazarudin Umar, imam besar masjid Itiqlal Jakarta memberikan penjelasan, bahwa masjid menjadi corong menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Dalam pesannya beliau mengatakan, Jangan membuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dalam keadaan baik. Oleh karena itu menjaga kebersihan masjid, menciptakan energi ramah lingkungan terhadap operasional masjid, dan melestarikan air di masjid menjadi bagian menjaga kelestarian lingkungan. Sedangkan cendekiawan Malaysia Dines Suna menyampaikan informasi, penghijauan masjid, pengolahan air, dan pengolahan sampah plastic menjadi bagian bentuk usaha masjid ramah lingkungan.

Kegiatan ini terselenggara atas bekerjasama dengan Masjid Agung Istiqlal Jakarta dan Masjid Agung Sheikh Zayed Solo, dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan International Symposium Innovative Masjid (ISIM) dilatari atas melestarikan lingkungan dan mengurangi perubahan iklim merupakan keharusan universal, sebagaimana dinyatakan dalam SDGs 13. Maka tema yang diambil, yakni Eco-friendly Mosque, Climate Change, and Future Generation. Tujuan diselenggarakannya International Symposium Innovative Masjid (ISIM); 1) memperkuat kesadaran peran agama dan tokoh agama dalam melestarikan lingkungan dan ancaman perubahan iklim. 2) pengembangan inovasi dan praktik masjid ramah lingkungan. 3) mendapatkan model pengembangan masjid ramah lingkungan dari perspektif dalam dan luar negeri serta multi agama.

Kegiatan International Symposium Innovative Masjid (ISIM) diselenggerakan selama tiga hari di Swiss Belhotel Solo. Acara berlangsung mulai tanggal 1 Oktober 2024 dibuka dengan pengaharagaan masjid percontohan dan ramah di seluruh Indonesia. Tanggal 2 Oktober 2024 diselenggerakan konferensi Internasional dan pararel session model-model pengembangan masjid ramah lingkungan dalam dan luar negeri serta multi agama. Sedangkan pada 3 Oktober 2024 acara ditutup dengan bedah buku masjid ramah lingkungan di masjid Sheikh Zayed Surakarta dan rihlah masjid Sheikh Zayed Surakarta.




UIT Lirboyo Kediri Ikuti Workshop Strategi Pengelolaan Perpustakaan Berbasis AI

Perpus

Surabaya – Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri mengirimkan perwakilannya untuk menghadiri acara “One Day Workshop: Strategi Pengelolaan Perpustakaan Berbasis Artificial Intelligence” yang diselenggarakan oleh (Sekolah nterdisiplin Manajemen dan Teknologi) SIMT ITS pada 19 September 2024 dengan narasumber ibu Dr. Dessy Harisanty, MA (Pakar Manajemen Perpustakaan UNAIR) dan Bpk.Nisfu Asrul Sani, S.Kom., M.Sc (Pakar Arifical Intelegance ITS). Acara tersebut berlangsung pada pukul 08.30 hingga 16.30 WIB dan sukses menarik perhatian para profesional dan pengelola perpustakaan dari berbagai daerah.

Seminar dimulai dengan sesi pembukaan yang diikuti dengan materi pertama berjudul “Overview: Manajemen Perpustakaan di Era Digital” oleh ibu Dr. Dessy Harisanty, MA. Sesi ini memberikan gambaran umum mengenai Konsep Perpustakaan Digital, Peluang dan Tantangan di Era Digital bagi Perpustakaan serta Perkembangan Karakter Pemustaka dan Pustakawan di Era Digital.

Materi selanjutnya “Strategi Pengembangan Perpustakaan berbasis Continuous Improvement“, di mana beliau memaparkan mengenai Konsep Continuous Improvement, Strategi-strategi Continuous Improvement dalam Konteks Perpustakaan Digital serta Evaluasi Program Perpustakaan Digital.

Setelah istirahat, acara dilanjutkan dengan sesi materi “Strategi Pengelolaan Perpustakaan berbasis Artficial Intelligence” yang disampaikan oleh Bapak Nisfu Asrul Sani, S.Kom., M.Sc. Pada sesi ini, beliau membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan saat ini serta solusi praktis untuk mengoptimalkan pengelolaan.

Materi terakhir, “Pemanfaatan Fitur Berbasis AI pada Layanan Perpustakaan Digital (Case Study/Praktik)” yang juga disampaikan oleh Bapak Nisfu Asrul Sani, S.Kom., M.Sc. Beliau menjelaskan bagaimana kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan layanan perpustakaan, Pengenalan layanan dan fitur AI yang tersedia, Penggunaan Fitur AI untuk layanan perpustakaan (case study) serta Antisipasi penyalahgunaan AI.

Seminar ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para narasumber mengenai implementasi materi yang telah disampaikan.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan inspirasi bagi pengelola perpustakaan dalam meningkatkan kualitas layanan dan pengelolaan perpustakaan di era digital saat ini.




Datangkan Komisioner Komnas Perempuan, Mahasiswa UIT Lirboyo Ikuti Pelatihan Pemuda Pelopor GENSIA!

PSGA_Tak henti menggaungkan advokasi terkait gender, sosial inklusi & anak, Sarah & Vina (mahasiswa KPI) menjadi delegasi dalam Seminar Nasional bertajuk ‘Optimalisasi Budaya Berkeadilan Gender di Lembaga Pendidikan’ yang dihelat Pusat Studi Gender & Anak (PSGA), berkolaborasi dengan Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat IAIN Kediri. Diselenggarakan selama 2 hari di Auditorium Perpustakaan Lt. 4 IAIN Kediri.

Pelatihan tahap pertama digelar pada 20 September 2024. Rangkaian agenda ini dimulai lewat opening speech yang disampaikan oleh Prof. Dr. Sardjuningsih, M.Ag. Beliau menuturkan bahwa sebagai insan intelektual, kita tidak boleh acuh & harus 𝘢𝘸𝘢𝘳𝘦 terhadap momok kekerasan seksual yang kerap mengintai, melalui peningkatan kesadaran tentang urgensi harkat & martabat/keberhargaan diri. Tegasnya kembali, “Kenalah kita menumbuhkan kesadaran baru supaya terwujud 𝘦𝘯𝘷𝘪𝘳𝘰𝘯𝘮𝘦𝘯𝘵 yang adil & peradaban humanis. Bermula dari mana? Cara pandang/pola pikir itu yang lantas mengelaborasi perilaku kita.”

Hadir pada kesempatan tersebut Rektor IAIN Kediri, Dr. Wahidul Amin, M.Ag yang sekaligus memberikan sambutanya. Beliau mengharap, melalui Pelatihan GENSIA ini dapat menghantar pada komitmen 𝘨𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘦𝘲𝘶𝘢𝘭𝘪𝘵𝘺, yang tentu tidak cukup hanya dengan mengetahui & sadar akan konseptual gender, melainkan perlu perumusan yang komprehensif, yakni responsif gender dari seluruh kalangan/civitas. Kita harus berani menginisiasi model-model yang relevan dengan tantangan masa kini, menganulir ketidaksetaraan yang lampau menyusupi kultur masyarakat.

Problematika utama menyangkut isu gender lainnya, yaitu ‘disorientasi kepentingan.’ Seperti serombongan yang terhuyung tanpa proteksi & meski segala macam metodis spartan dilakukan, namun tak mudah memang. Inilah 𝘤𝘩𝘢𝘭𝘭𝘦𝘯𝘨𝘦 yang harus ditepis. Bahasan seputar patriarki dikuliti secara detail, adalah memposisikan laki-laki sebagai otoritas sentral, standar moralitas & kemaslahatan—di mana kausalitasnya yakni subordinasi, marginalisasi, 𝘷𝘪𝘰𝘭𝘦𝘯𝘤𝘦, beban ganda, dsb. Hal tersebut dijelaskan langsung oleh Komisioner Komnas Perempuan, Dr. Imam Nahe’i, M.H.I. yang dikemas dengan menyuguhkan nash & dalil yang terkorelasi terhadap substansi berjudul ‘Gender dalam Islam (Relasi Gender perspektif Agama & Budaya)’, “Akar patriarki berasal dari mitos yang diyakini sebagai fakta ideal & menjadikan peran gender yang dapat dipertukarkan sebagai kodrat yang selalu melekat. Bagaimana mengurainya? Beberapa hal, di antaranya: (1) membangun narasi alternatif melalui penguatan literasi, konten digital; (2) mengoptimalkan gerakan-gerakan budaya lewat 𝘤𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘨𝘯; (3) mengesahkan 𝘭𝘦𝘨𝘢𝘭 𝘧𝘰𝘳𝘮 yang kondusif bagi perempuan & mencegah lahirnya kebijakan diskriminatif. Pun, kasuistik bias gender yang terjadi di masyarakat & solusi Akses Partisipasi Kontrol & Manfaat (APKM) yang ter-𝘥𝘦𝘤𝘭𝘢𝘳𝘦 sebagai kunci indikator adil gender, tidak luput menjadi materi yang menarik.

Rekan-rekan mahasiswa dari berbagai kampus di Kediri; perwakilan dari SMA/MA sederajat disertai naradamping (baik guru maupun pimpinan masing-masing), dsb pun turut membersamai euforia hari itu, kurang lebih dihadiri oleh 100 peserta.

Dilanjutkan narasumber berikutnya, yaitu Ibu Tatik Imadatus, M.Psi., Psikolog. Beliau memaparkan dampak psikologis pada korban kekerasan seksual, yang ditinjau dari segi Neuro-Psikologi. Konstruksi patriarki tak dinafikan sudah amat kental di masyarakat & bahkan mengakar dalam alam bawah sadar. Laki-laki dijustifikasi mempunyai 𝘱𝘳𝘪𝘷𝘪𝘭𝘦𝘨𝘦 lebih di dalam konstruksi masyarakat (re: superioritas) yang telah lama dibumbungkan, sehingga 𝘤𝘢𝘴𝘦 yang beredar adalah dominan eksploitasi & kekerasan seksual—otomatis timbul kondisi traumagenik & reviktimisasi. Refleksi dari Ibu Ima (sapanya demikian) di akhir sesi, “Renungkanlah wahai wanita, jangan lekas terbujuk rayu. Lindungi dirimu & apa yang Tuhan jaga darimu. Sampai tiba waktunya nanti, untuk seseorang yang telah dipilihkan-Nya mengarungi mahligai indah bersamamu.” sontak menggugah riuh audiens.

Keesokan harinya, 21 September 2024 Pelatihan GENSIA disambung dengan pemaparan oleh Ibu Solehati Nofitasari, M.H selaku Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember, Dr. Nuril Hidayati, S.Fil.I., M.Hum (Dosen Filsafat IAIN Kediri) mengenai Stereotipe & Diskriminasi Gender dalam Pandangan Budaya, serta Ibu Lutfi Atmasari, M.Psi. selaku Dosen Psikologi Islam IAIN Kediri.

Selain penyampaian materi dari para narasumber, adendum lain yang terselenggara adalah follow up & diskusi dengan membentuk kelompok masing-masing 10-12 orang yang memperoleh instruksi untuk mengkaji isu gender di lingkungan sekitarnya, serta kemudian dipresentasikan. Dr. Nuril di sela diumumkannya best performance, beliau memantik, “Paradigma yang moderat bisa dicapai ketika kita mafhum tentang fundamen yang menekankan pada basis nilai-nilai kemanusiaan, kemitraan, keadilan-penghargaan sesuai dengan prinsip ajaran Islam yang 𝘳𝘢𝘩𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘭’𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪𝘪𝘯.”

Penulis: Sarah Aqila

Editor: Amalia Rosyadi, M.Med.Kom

 




Dosen UIT Lirboyo Kediri Melakukan Pendampingan Guru PAI SMPN Se-Kabupaten Nganjuk

Pai

Nganjuk – Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk melaksanakan kegiatan bimbingan teknis untuk guru PAI berkaitan dengan program baca tulis Al Qur’an pada 17-20  September 2024. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 4 hari dengan 4 materi utama. Materi kebijakan BTQ disampaikan oleh Dr. H. Ridwan, materi kurikulum BTQ disampaikan oleh Dr. Ali Anwar, materi pembelajaran BTQ disampaikan oleh Drs. H. Miftahul Huda, M. Pd.I dan materi tentang evaluasi program BTQ disampaikan oleh Dr. A. Jauhar Fuad.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMPN 2 Nganjuk. Kegiatan tahun ini sendiri merupakan tahun ketiga untuk tingkat SMP, dimana orientasi dari kegiatan tersebut 3 tujuan, yakni untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis, menghafal Alquran; menumbuhkan kecintaan generasi muda pada Al Qur’an; serta mengidentifikasi kemampuan baca tulis Al Qur’an pada jenjang SMP.

Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 60 peserta terbaik dalam kelas A dan kelas B. Proses belajar dilakukan dengan menggunakan metode diskusi dan dilanjutkan dengan penugasan dengan cara mengidentifikasi masalah, kemudian dirumuskan dan dipecahkan.

Proses kegiatan berjalan baik, sekalipun setengah dari seluruh peserta yang hadir sudah pernah mengikuti program bimtek tahun sebelumnya. Pemateri berupaya agar materi dan penyampaian tidak sama dan memiliki pembaharuan dari tahun sebelumnya.