Gus Reza Memberi Tausiyah di UIN Surabaya

Gus reza

Surabaya, Dosen Tetap Fakultas Syariah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Reza Ahmad Zahid, Lc.,M.A. memberikan tausiyah dalam acara Pengajian Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW.

Acara yang digelar oleh Universitas Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya bertajuk Meneladani Akhlak Rasulullah Muhammad SAW dihadiri oleh ribuan Mahasiswa, Dosen, Rektorat, beserta jajarannya.

Dalam hal ini, Gus Reza menceritakan tentang masa hidup Rasulullah yang menjadi inspirasi seluruh umat Islam se jagad Raya.

Acara ini bertempat di Aula Utama Masjid Raya Ulul Albab Sunan Ampel Surabaya, Jum’at malam, 22 November 2019. Dok/FS




Ugkap Kasus Agraria, BEM FS Gelar Seminar Nasional UUPA

IMG 20181112 WA0143

Kediri- Minggu (11/11) di Aula Mahrus Aly BEM Fakultas Syari’ah (BEM FS) menggelar seminar nasional yang membuat mahasiswa melek akan agraria. Dengan bertemakan “Undang Undang Pokok Agraria (UUPA) ditengah pusaran hutang dan investasi”.

Bersama Bu Sheila sebagai moderator memandu seminar dengan gaya luwesnya, juga pak Abbas sebagai keynote speaker yang mampu menyuntikkan permasalahan pada awal prolog, kemudian pak Rudi sebagai pemateri pertama dan juga pak Putut sebagai pemateri kedua mereka mampu membuat mahasiswa melek akan reformasi agraria, sampai akhirnya membawa mahasiswa untuk studi kasus dengan masalah yang memang sedang panas di negara ini.

Tema ini berangkat dari anggapan bahwa ini adalah masalah yang paling urgen di negara indonesia yang kaya dan subur..

“Tema diangkat karena tema ini merupakan masalah yang paling urgen yg ada di negara kita yaitu masalah Agraria. Karena banyak kasus yg belum terbongkar, oleh karena itu kami dari teman-teman syariah ingin mengangkat ini kepermukaan mahasiswa agar mahasiswa ini melek terhadap agraria tersebut,” jelas Ahmad Zumroni selaku Pengangkat tema.

Selain bertujuan agar mahasiswa melek akan agraria, seminar ini bertujuan membangun kesadaran mahasiswa agar bisa mengadvokasi terhadap warga yg terkena dampak konflik agraria.

Sejauh ini UUPA memang diakui sedang dalam situasi rentan dan mengalami kemunduran yang sognifikan, dalam babak perjuangan nya karena ditengah situasi pusaran hutang, dan investasi menyebabkan bahwa setiap program atau kebijakan turunan dari Reformasi Agraria justru berpotensi menghilangkan hak sumber agraria dari rakyat tani.

Sikap mahasiswa terhadap UUPA dalam aspek pergerakan dan perjuangan “bahwa mahasiswa adalah peranan paling penting dalam Reformasi Agraria, juga sebagai kelompok yang mempunyai kemampuan tentang bagaimana regulasi, kebijakan, sistem, sampai mengoperasionalkan sebuah kebijakan menjadi sebuah tataran program-program tahtis.

Di sisi lain karna mahasiswa merupakan pemuda yang diharapkan mampu melakukan mobilitas yang begitu baik, yang tidak dilakukan oleh sektor lain. Disini lah bagaimana mahasiswa menjadi pelopor dalam setiap gerakan masyarakat utamanya dalam perjuangan untuk menuntaskan dan mewujudkan reformasi agraria” papar Pak Putut sebagai pemateri

Harapan bukan menjadi satu kegiatan pamungkas, jadikan seminar ini sebagai pintu pembuka awal kita untuk mempelajari lebih dalam mengenai persoalan-persoalan agraria. Dan saya fikir tidak hanya melakukan diskusi tapi kita juga bisa memulai satu gerakan yang mungkin tidak harus sampai tingkatan yang sangat progresif tapi bisa kita mulai dari hal-hal yang sederhana. Bagaimana kemudian hal yang simple yang dapat dijangkau oleh mahasiswa secara luas itu menjadi program-program awal dari perjuangan kawan-kawan. begitu harap pemateri.




Partisipasi dosen IAI Tribakti Kediri dan ICRLNC

WhatsApp Image 2019 11 03 at 10.20.23 AM

Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri mendapat kesempatan mengirimkan salah seorang dosen untuk menjadi salah satu pembicara dalam 1st International ConferenceReligion, Law, Nature and Culture for Achieving Sustainable Development Goals” Konferensi Internasional tentang Agama, Hukum, Alam dan Budaya dalam Mencapai Pembangunan Berkelanjutan pada hari selasa 29 Oktober 2019. Konferensi yang berlangsung di Auditorium Universitas Nasional Jakarta Selatan tersebut mengangkat tema lingkungan karena, melihat bahwa Indonesia adalah negara besar dengan keanekaragaman hayati yang kaya disebut sebagai “Mega-biodiversity Country”, sementara di sisi lain Indonesia juga punya dan sangat kaya dalam hal sumber daya alam dan kearifan budaya. di samping kawasan konservasi yang luas dengan sumber daya alam hayati di Indonesia bentuk taman nasional, cagar alam, taman hutan besar, atau dilindungi hutan. Banyak kearifan dan kehidupan tradisional telah terbukti menopang keberkelanjutan hidup dan kemampuan masyarakat lokal untuk melestarikan alam dan area alami. Tapi, Di sisi lain, masih ada perambahan hutan ilegal, dan perdagangan satwa liar ilegal masih menjadi tantangan. Melalui konferensi ini diharapkan dapat menjadi media eksplorasi agama, hukum, kearifan alam dan budaya dalam rangka meningkatkan pemahaman dan penghargaan di antara kompleksitas tantangan dalam melestarikan kami alam dan wilayah alami juga dalam mencari nexus dan sinergi dalam untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Pemakalah yang hadir pada ICRLNC tersebut lebih dari 30 institusi baik nasional maupun internasional dengan berbagai latar belakang, seperti AS, Australia, Ternate, Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku, Aceh, Medan, Jakarta, Bali, Yogyakarta, Banjarmasin Sulawesi Selatan, Surabaya, Kediri, Malang, Padang dan Kalimantan Barat. Konferensi ini menghadirkan keynote speaker dari berbagai bidang keilmuan diantaranya, Rev. Fletcher Harper, Phd, Eksekutif Direktur dari organisasi pemerhati agama dan lingkungan Green Faith Amerika Serikat, Ir. Wiratno, MSc, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Layanan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Prof, Dr. Arskal Salim Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. Fachruddin Mangunjaya, MSc, dari Universitas Nasional, Pusat Studi Islam (PPI),  Rosmidzatul Azila Mat Yamin, BSc, MSc, dari Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan Institut Pemahaman Islam Malaysia, Karmele Liano Sanches, BVSc, MSc, Direktur Animal Rescue Internasional dari Spanyol, dan Rizal Malik dari Kepala Eksekutif WWF (Worl Wide Fund for Nature) Indonesia.

Abbas Sofwan Matlail Fajar salah satu dosen tetap sekaligus kepala program studi Hukum Keluarga Islam dalam konferensi tersebut mempresentasikan makalahnya pada sesi paralel dengan tema Environmental Ethics On Slopes Of Mount Kelud: Local Community Responses To The Utilization Of Mount Kelud Materials After 2014 Eruption Etika Lingkungan di Lereng Gunung Kelud: Respon Masyarakat Lokal terhadap Pemanfaatan Material Gunung Pasca Erupsi tahun 2014. Menurutnya Hidup bersama Kelud adalah sebuah keniscayaan bagi masyarakat Kediri. Oleh karena itu, mutlak kiranya masyarakat Kabupaten Kediri untuk memahami makna Kelud dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman makna yang mendasar mengenai Kelud itulah yang melahirkan kearifan lokal (local wishdom) masyarakat Kabupaten Kediri dalam menjalin interaksi dangan Gunung Kelud dan menjaga keseimbangan ekosimtemnya. Kearifan Lokal (local wishdom) ini penting dilestarikan, karena masyarakat Kabupaten Kediri banyak diuntungkan dalam banyak aspek kehidupan oleh Kelud. Baik aspek Ekonomi, Ekologi maupun Kehidupan Sosial (Equality).

Abbas Sofwan Matlail Fajar Sedang mempresentasikan makalah

Diskusi paralel pada konferensi tersebut diadakan setelah presentasi para nara sumber utama, dan sesi paralel terbagi menjadi delapan ruang, masing masing ruangan dipilih kategori presentasi terbaik oleh panitia penyelenggara. Abbas Sofwan delegasi dari Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri yang memaparkan dan mempresentasikan artikelnya  pada ruang delapan mendapatkan predikat presentasi terbaik dengan artikelnya tentang Respon Masyarakat Lereng Gunung Kelud Pasca Erupsri 2014, ia mendapatkan penghargaan beberapa buku tentang lingkungan dan konservasi sumber daya alam sekaligus marchandise dari Universitas Nasional sebagai tuan rumah dan penyelenggara konferensi internasional tersebut. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Dr. Fachruddin Mangunjaya, MSc selaku Kepala Pusat Pengkajian Islam Universitas Nasional yang juga merupakan penulis produktif dalam bidang Islam dan Lingkungan Hidup diantaranya Konservasi Alam Dalam Islam, Bertahan di Bumi, Khazanah Alam:Menggali Tradisi Islam untuk Konservasi, Ekopesantren: Bagaimana Merancang Pesantren Ramah Lingkungan, dan Menanam Sebelum Kiamat: Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup.




Gus Reza Ajak Mahasiswa IAIN Kediri Perkuat Toleransi

GUS REZA

Kediri – Dosen Tetap Fakultas Syariah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri Reza Ahmad Zahid (Gus Reza) mengatakan fanatisme buta tidak diperbolehkan dalam ajaran Agama Islam. Fanatisme buta yang dimaksud adalah fanatik tetapi menyalahkan dan tidak menghormati kelompok lain.

“Fanatisme yang harus kita lakukan adalah fanatisme yang digandengkan dengan sifat toleransi, sifat terbuka untuk menerima yang berbeda,” tutur Gus Reza di aula rektorat IAIN Kediri, Kamis 24 Oktober 2019.

Lebih lanjut Gus Reza menjelaskan tentang pluralisme di Indonesia. Menurutnya, pada masa Gus Dur di atas angin istilah pluralisme menjadi enak dan nikmat untuk dibahas. Akan tetapi menjadi kontroversi pada tahun 2005 setelah MUI (Majelis Ulama Indonesia) memberikan fatwa sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme bertentangan dengan ajaran Islam.

Tapi di lain pihak menurut Gus Reza, Gus Dur justru diangkat menjadi Bapak Pluralisme, sehingga hal tersebut menjadi kontroversi. Gus Reza mengatakan, hal tersebut terjadi karena tidak ada satu definisi yang disepakati oleh ulama, intelektual maupun ilmuan tentang pluralisme.

“Pluralisme ini kan, sebuah keniscayaan, berbeda ini adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa lepas dari yang namanya berbeda,” jelas Gus Reza kepada peserta Seminar Nasional bertemakan Fanatisme Keagamaan dan Masa Depan Pluralisme di Indonesia yang diadakan Program Studi SAA (Studi Agama Agama) IAIN Kediri.

Menurut Direktur Institute for Javanese Islam Research Akhol Firdaus, fanatisme tidak masalah sama sekali karena orang boleh meyakini sesuatu kebenaran yang dijadikan motivasi terhadap hidupnya. “Jangankan agama, orang ateis pun bisa sangat fanatik,” ucap Akhol Firdaus yang juga menjadi narasumber dalam seminar.

Menurut Cak Akhol sapaan Akhol Firdaus yang menjadi masalah dari fanatisme adalah kalau ia (fanatisme) tumpah ruah di ruang publik dan akhirnya membentuk hate speech (ujaran kebencian) berbasis agama, yang menghasut, mendorong kekerasan, diskriminasi, mewujud ke dalam tindakan intoleransi dan persekusi.[] Dok/FS

 




Observasi Lapangan ke LBH Fadjar Kediri

WhatsApp Image 2019 12 17 at 16.10.48

Kediri, Kegiatan belajar mengajar perkuliahan tidak melulu di ruang kelas. Banyak ilmu yang bisa didapat justru dari lapangan langsung. Salah satunya yang dilakukan mahasiswa Prodi Ahwal Al-Syahsiyah IAIT Kediri ini.

Mereka melakukan observasi lapangan ke instansi lembaga bantuan hukum (LBH). Selain itu mereka juga belajar banyak hal tentang hukum. Diharapkan mahasiwa memperoleh informasi dari LBH yang memiliki banyak pengalaman.

Kunjungan observasi lapangan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 23 Oktober 2019 bertempat di kantor LBH fadjar kota Kediri.

Kegiatan ini bertujuan untuk mencari informasi secara langsung peran LBH dalam menangani kasus-kasus masyarakat yang tidak mampu. Kasus yang ditangani LBH ini tentang tindak perkara, perdata maupun pidana.[] FS