Fokus Diskusi dalam Rangka Persiapan PPL dan KKN Internasional

0
268
WhatsApp Image 2025 02 09 at 13.05.23
image_pdfimage_print

Minggu, 9 Februari 2025, Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri kedatangan rombongan tamu dari PCI NU Malaysia. Dalam kesempatan tersebut, hadir Wakil Rektor I Dr. H. A. Jauhar Fuad, Wakil Rektor II M. Dr. Arif Khoiruddin, M.Pd.I., Wakil Rektor III Yasin Nur Falah, M.Pd.I., serta jajaran dekanat, kepala LPM, dan Direktur Pascasarjana.

Diskusi ini merupakan bagian dari kelanjutan MoU antara UIT Lirboyo dan Muslimat NU Malaysia. Kedua pihak sepakat untuk melakukan berbagai kegiatan bersama dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat. Implementasi dari kerja sama ini diwujudkan dalam program PPL dan KKN internasional yang direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Maret, April, dan Agustus. Tahap awal pelaksanaan program ini akan dimulai pada bulan Ramadan dengan mendelegasikan beberapa mahasiswa.

Wakil Rektor III Yasin Nur Falah menyampaikan bahwa program PPL dan KKN internasional telah disosialisasikan kepada mahasiswa dan mendapatkan respons positif. Banyak mahasiswa yang antusias dan ingin segera diberangkatkan. Namun, aspek kesiapan administrasi dan teknis tetap menjadi pertimbangan utama sebelum keberangkatan.

Wakil Rektor I Dr. A. Jauhar Fuad menambahkan bahwa program ini memiliki keunggulan karena satu kegiatan dapat memberikan dua manfaat sekaligus. Mahasiswa yang telah mengikuti PPL dan KKN internasional tidak perlu lagi menjalani program serupa di dalam negeri.

Ketua PCI Muslimat NU Malaysia, Drs. Hj. Nyai Mimin Minarsih, mengungkapkan bahwa di Malaysia terdapat 70 sanggar belajar dengan sekitar 2.000 pelajar Indonesia. Sebagian besar siswa tersebut menghadapi kendala administrasi sebagai warga negara Indonesia karena mereka lahir dari keluarga yang tidak tercatat dalam perkawinan yang sah menurut hukum.

Sanggar belajar di Malaysia memiliki sistem yang serupa dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Indonesia. Para siswa mendapatkan ijazah penyetaraan seperti Paket A dan B, dengan kurikulum yang disesuaikan dengan sistem pendidikan Indonesia. Kegiatan belajar dimulai pukul 07.00 dengan shalat sunnah dan istighasah, diikuti dengan sesi pembelajaran hingga pukul 16.00. Selain mata pelajaran akademik, para siswa juga mendapatkan pendidikan keagamaan dan keterampilan, seperti seni tari, shalawat, serta pencak silat. Pendidikan ini terbagi menjadi empat jenjang, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), baca tulis hitung (Calistung), Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama.

Drs. Hj. Nyai Mimin Minarsih menambahkan bahwa sejak berdirinya sanggar belajar ini pada tahun 2019, mereka masih menghadapi keterbatasan jumlah tenaga pengajar. Kehadiran mahasiswa dari Indonesia melalui program PPL dan KKN internasional sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan tenaga pengajar serta meningkatkan kualitas pendidikan di sanggar belajar Malaysia.

Comments are closed.