Kunjungan Dubes Palestina Teguhkan Dukungan Akademisi Kediri untuk Kemerdekaan Palestina

KEDIRI — Dukungan akademisi Kediri terhadap kemerdekaan Palestina kembali ditegaskan melalui seminar nasional bertema “Dukungan Abadi Indonesia untuk Palestina: Mengukuhkan Peran Historis, Diplomatik, dan Kemanusiaan”yang digelar di Auditorium Perpustakaan UIN Syekh Wasil Kediri, Kamis (4/12/2025). Kegiatan ini dihadiri berbagai unsur pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan lembaga pendidikan di Kediri. Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri turut berpartisipasi dengan menugaskan Ketua Lembaga Pengembangan Bahasa dan Hubungan Internasional sebagai delegasi resmi.

Seminar tersebut merupakan tindak lanjut dari pidato Presiden RI Prabowo Subianto pada Sidang Majelis Umum PBB di New York, 23 September 2025, yang menyerukan negara-negara anggota untuk mengakui kemerdekaan Palestina serta menghentikan kekerasan dan penindasan terhadap warga Palestina.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia, H.E. Dr. Zuhair Saleh Muhammad Alshun, hadir sebagai pembicara utama. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Indonesia, khususnya peserta seminar, atas dukungan moral dan solidaritas yang terus diberikan. Ia menyebut dukungan tersebut menjadi energi penting bagi perjuangan rakyat Palestina menuju kemerdekaan.
Suasana seminar berlangsung emosional ketika peserta mengibarkan bendera Palestina. Dr. Zuhair menyatakan optimisme bahwa ketika Palestina merdeka, masyarakat Indonesia akan dapat berkunjung secara bebas ke Masjid Al-Aqsa.
Dalam pemaparannya, ia menekankan tiga poin utama. Pertama, perjuangan rakyat Palestina bukan sekadar kepentingan politik atau kawasan, tetapi berakar pada nilai kemanusiaan, ideologi, dan hak asasi manusia. Kedua, ia mengajak masyarakat Indonesia terus bersuara melalui berbagai bentuk ekspresi, mulai dari edukasi keluarga, seminar, kegiatan publik, hingga ruang digital sebagai dukungan nyata terhadap hak kemerdekaan Palestina. Ketiga, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Palestina memiliki dasar historis yang kuat, mengingat Palestina merupakan salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1945. Ia juga mengingatkan agar solidaritas ini dijaga dari oknum yang memanfaatkan isu Palestina untuk kepentingan pribadi.
Narasumber kedua, Farid F. Saenong, Ph.D., Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI, menyoroti kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian dunia. Ia menyebut nilai budaya dan praktik kesetaraan gender di Indonesia menjadi modal sosial dan diplomatik yang diakui dunia dalam memperkuat jalur kemanusiaan dan solidaritas global.
Menutup sesi, Dr. Zuhair menyerukan kepada akademisi dan institusi pendidikan agar terus melawan segala bentuk sikap penjajahan dan mengajarkan kebenaran. Karena hal inilah yang juga menjadi modal utama para pejuang Palestina dalam mempertahannkan hak-hak mereka. Ia mengingatkan bahwa beberapa materi ajar global menghilangkan identitas Palestina dalam peta, atlas, dan literatur internasional. Menurutnya, penyampaian kebenaran sejarah merupakan bagian dari perlawanan terhadap penjajahan dan bentuk dukungan nyata terhadap perjuangan rakyat Palestina.
