
Rahmad IIkbal Devid, berkesempatan bertanya terhadap pemateri pada saat seminar internasional berlangsung.
SURAKARTA- Universitas Islam Raden Mas Said menyelenggarakan International Converence on Islamic Education and Instruction (ICIE 2025) di Gedung SBSN UIN Raden Mas Said pada Kamis, 23 Oktober 2025. Tiga mahasiswa Universitas Islam Tribakti lolos dalam penyeleksian abstrak karya tulis ilmiah mereka dalam penyeleksian ketat, dan kini berkesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka di acara conference tersebut. Tim ini dipimpin oleh Atika Nailah Syirva, mahasiswi Pascasarjana (PAI-3A), yang berperan sebagai Presenter utama kemudian kontribusi signifikan juga datang dari mahasiswa S1, Rahmad Ikbal Devid (PAI-A2 Semest. 7), yang menjabat sebagai author kedua sekaligus berpartisipasi sebagai precenter dalam acara tersebut. Serta, melengkapi tim, adalah Salma Mawaddah (HKI/7), mahasiswi yang menjadi author ketiga dalam karya ilmiah ini.
Acara tersebut merupakan konferensi yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta yang mengusung tema “Navigating a sustainable future: Leveragings technology to enhance science learning and foster innovation in Islamic education”, Konferensi ini diikuti oleh 447 presenter yang berasal dari 55 universitas dan 8 negara berbeda, menunjukkan antusiasme dan jangkauan internasional yang luas dalam memperkuat kolaborasi riset di bidang pendidikan Islam dan inovasi.
Keynote Speaker dalam acara ini yaitu, Prof. Dr. Toto Suharto, M.Ag (Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta). Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya peran teknologi dalam menciptakan masa depan pendidikan Islam yang berkelanjutan dan kompetitif. Beliau juga menekankan urgensi kolaborasi global dalam mengintegrasikan teknologi dan sains ke dalam sistem pendidikan Islam, sebagai upaya memperkuat relevansi dan daya saing keilmuan di era digital. Selanjutnya welcoming speech oleh Prof. Dr. Fauzi Muharom, M.Ag (Dekan Fakultas Tarbiyah).
Dalam rangka memperkaya wacana ilmiah, ICIEI menampilkan sejumlah tokoh akademik terkemuka yang memberikan pandangan inovatif dalam bidang pendidikan Islam dan pengembangan teknologi, yaitu Prof. Christopher Johnstone, Ph.D (University of Minnesota, USA), Assoc. Prof. Dr. Anas Tajudin (Chief Executive, Olympia Education Group, Malaysia), Prof. Dr. Sutanto, S.Si., DEA (Universitas Sebelas Maret, Indonesia).
First Speaker oleh Prof. Christopher Johnstone, Ph.D (University of Minnesota, USA). Beliau menyampaikan bahwa penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan merupakan wilayah baru yang memerlukan kehati-hatian dan pertimbangan etis. Pemanfaatan AI harus selalu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, menjadi alat yang mendukung proses belajar, bukan menggantikannya. Jika AI justru menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis atau kemandirian peserta didik, penggunaannya perlu dibatasi. Narasumber juga menekankan pentingnya transparansi dan dialog terbuka dalam merespons perubahan budaya yang muncul akibat kemajuan teknologi, serta menegaskan bahwa proses belajar tetap harus memberi ruang bagi “pergulatan mental” yang membentuk karakter dan kedalaman intelektual peserta didik.
Second speaker oleh Assoc. Prof. Dr. Anas Tajudin (Chief Executive, Olympia Education Group, Malaysia). Beliau menegaskan bahwa kemajuan pendidikan bertumpu pada tiga pilar utama: keadilan, inovasi, dan kolaborasi. Keadilan (equity) menjadi fondasi agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang setara dan inklusif, tanpa ada yang tertinggal. Inovasi (innovation) berperan menjaga relevansi dan kemajuan pendidikan di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi, melalui pembaruan dalam metode, kurikulum, dan pendekatan belajar. Sementara itu, kolaborasi (collaboration) menjadi kunci dalam membangun ketangguhan dan kemakmuran bersama melalui sinergi antarpendidik, lembaga, dan masyarakat. Dengan demikian, paradigma narasumber menempatkan keadilan sebagai dasar, inovasi sebagai penggerak, dan kolaborasi sebagai penguat menuju sistem pendidikan Islam yang adaptif dan berkelanjutan.
Third speaker oleh Prof. Dr. Sutanto, S.Si., DEA (Universitas Sebelas Maret, Indonesia). Beliau memaparkan bahwa integrasi antara spatial clustering (K-Means) dan network optimization (MST) dapat menjadi pendekatan matematis dan sosial yang mendukung desain perkotaan berkelanjutan. Melalui keterhubungan antara warisan sejarah masjid dan inovasi lingkungan, Surakarta berpotensi membangun jaringan ekologi religius yang mencerminkan nilai iman dan ketangguhan. Paradigma ini menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan seharusnya tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga berakar pada spiritualitas dan kearifan budaya lokal.
Atika Nailah Syirva Bersama Rahmad Ikbal Devid dan Salma Mawaddah, memaparkan artikel dengan judul Efektivitas Kebijakan Pembatasan Plastik Sekali Pakai dalam Mendukung Keberlanjutan Lingkungan di Kota Kediri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Peraturan Walikota Kediri No. 30 Tahun 2023 telah dilakukan dengan cukup baik oleh sejumlah usaha modern seperti minimarket dan pusat perbelanjaan. Namun, kepatuhan dari usaha kecil seperti warung makan, restoran, dan pedagang makanan masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi yang lebih intensif, dukungan insentif, dan penegakan hukum yang konsisten agar kebijakan ini dapat berjalan optimal dan benar-benar mendukung keberlanjutan lingkungan di Kota Kediri.
Dengan lolosnya karya mereka, ketiga mahasiswa UIT ini membuktikan bahwa semangat penelitian dan kontribusi ilmiah di kampus Lirboyo sangat tinggi. Partisipasi Atika, Rahmad, dan Salma merupakan langkah nyata UIT dalam ikut serta merancang “peta jalan” bagi kemajuan Pendidikan Islam di masa depan yang serba kompleks dan digital. Prestasi ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi seluruh civitas akademika Universitas Islam Tribakti. Hasil dari konferensi ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan dan model pembelajaran baru yang akan memajukan pendidikan Islam di era revolusi industri 5.0