
Tiga Dosen UIT Tribakti Lirboyo: Unjuk Gigi Dalam International Symposium on Innovative Masjid 2024
Symposium Innovative Masjid merupakan ajang bergengsi yang memberikan informasi, pengetahuan, dan pendidikan masjid ramah lingkungan. Masjid ramah lingkungan menjadi tema pada acara symposium internasional. Berbagai narasumber yang ecpert di bidang masjid ramah lingkungan memaparkan hasil risetnya. Masjid-masjid yang dikelola secara inovatif ramah lingkungan memberikan kontribusi positif terhadap peradaban manusia. Para ahli ecomasjid friendly menyoroti berbagai hal dalam pengelolaan masjid masa depan. Sorotan tersebut mulai dari penggunaan energi ramah lingkungan, pengelolaan air wudhu, desain arsitektur masjid ramah lingkungan, pemanfaatan pohon peneduh di lingkungan masjid, dan pengembangan pemakmuran masjid yang lebih kreatif. Hadir pada acara International Symposium Innovative Masjid tersebut dosen Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri Dr. Abbas Matlai’l Fajar, MHI, LLM. Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. serta Dr. Ahmad Haq Alhaedary. Dosen Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri terpilih papernya secara internasional untuk menyampaikan inovasi dan transformasi masjid ramah lingkungan. Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. mengusung tema “Ecomasjid Management in the Mataram Era (Study of the Historical Mosque of Abu Mansyur Mosque, Tawangsari Village, Tulungagung Regency)”, dan Dr. Abbas Matlai’l Fajar, MHI, LLM, bersama Dr. Ahmad Haq Alhaedary mengusung “Masjid Ramah Lingkungan Berbasis Nilai-Nilai Lokal: Rekonstruksi Warisan Budaya Muslim Jawa Dalam Konservasi Air Untuk Masjid”.
International Symposium Innovative Masjid dibuka dengan prolog pentingnya mitigasi global warming. Acara Symposium Innovative Masjid ramah lingkungan dibuka oleh Dr. Ahmad Zayadi. Beliau memberikan pesan agar masjid-masjid menjadi tempat ibadah yang nyaman dan ramah bagi lingkungan. Transformasi masjid percontohan dan ramah di seluruh Indonesia akan menjadi media belajar bagi masjid di seluruh Indonesia. Harapannya masjid-masjid di seluruh Indonesia menjadi masjid ramah bagi semua masyarakat. Agama memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada masyarakat perihal menjaga kelestarian lingkungan. Masjid merupakan central kegiatan masyarakat Islam di Indonesia. Terdapat ivent-ivent besar yang dilakukan di masjid yang mengumpulka masa. Maka momentum tersebut menjadi media yang tepat agar masjid menjadi sarana percontohan nyata dalam memberikan pemahaman betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui masjid percontohan dan ramah lingkungan.
Acara International Symposium Innovative Masjid dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ruth Faber, yang menyoroti permasalahan utama transformasi gereja ramah lingkungan di antaranya finansial dan keyakinan fungsi gereja murni sebagai tempat ibadah. Maka diperlukan usaha dan kreativitas serta edukasi secara kontinue untuk mencari solusi. Sementera itu Faisal Rumiati imam Masjid She Zayid menyatakan, membangun masjid bukan hanya material, tetapi ada unsur hati yang taqwa. Pondasi membangun masjid adalah taqwa. Bentuk dari taqwa tersebut, yakni menjauhkan masjid dari kemungkaran. Maka masjid ramah lingkungan atau ramah bagi semua manusia menjadi bentuk masjid yang dibangun dengan unsur taqwa. Sementara itu Prof. Nazarudin Umar, imam besar masjid Itiqlal Jakarta memberikan penjelasan, bahwa masjid menjadi corong menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Dalam pesannya beliau mengatakan, Jangan membuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dalam keadaan baik. Oleh karena itu menjaga kebersihan masjid, menciptakan energi ramah lingkungan terhadap operasional masjid, dan melestarikan air di masjid menjadi bagian menjaga kelestarian lingkungan. Sedangkan cendekiawan Malaysia Dines Suna menyampaikan informasi, penghijauan masjid, pengolahan air, dan pengolahan sampah plastic menjadi bagian bentuk usaha masjid ramah lingkungan.
Kegiatan ini terselenggara atas bekerjasama dengan Masjid Agung Istiqlal Jakarta dan Masjid Agung Sheikh Zayed Solo, dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan International Symposium Innovative Masjid (ISIM) dilatari atas melestarikan lingkungan dan mengurangi perubahan iklim merupakan keharusan universal, sebagaimana dinyatakan dalam SDGs 13. Maka tema yang diambil, yakni Eco-friendly Mosque, Climate Change, and Future Generation. Tujuan diselenggarakannya International Symposium Innovative Masjid (ISIM); 1) memperkuat kesadaran peran agama dan tokoh agama dalam melestarikan lingkungan dan ancaman perubahan iklim. 2) pengembangan inovasi dan praktik masjid ramah lingkungan. 3) mendapatkan model pengembangan masjid ramah lingkungan dari perspektif dalam dan luar negeri serta multi agama.
Kegiatan International Symposium Innovative Masjid (ISIM) diselenggerakan selama tiga hari di Swiss Belhotel Solo. Acara berlangsung mulai tanggal 1 Oktober 2024 dibuka dengan pengaharagaan masjid percontohan dan ramah di seluruh Indonesia. Tanggal 2 Oktober 2024 diselenggerakan konferensi Internasional dan pararel session model-model pengembangan masjid ramah lingkungan dalam dan luar negeri serta multi agama. Sedangkan pada 3 Oktober 2024 acara ditutup dengan bedah buku masjid ramah lingkungan di masjid Sheikh Zayed Surakarta dan rihlah masjid Sheikh Zayed Surakarta.








