UIT Ngaji Spesial Hari Santri Nasional: Menumbuhkan Solidaritas Antar Sesama Bersama PCI NU Hong Kong

KEDIRI — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri) bekerja sama dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Hong Kong pada hari Sabtu, 18 Oktober 2025 menggelar UIT Ngaji edisi spesial bertema “Menumbuhkan Solidaritas Antar Sesama.”
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, serta jamaah Indonesia di Hong Kong. Acara berlangsung hangat dan reflektif, menghadirkan diskusi mendalam seputar makna solidaritas dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Acara dipandu oleh Fina Faizah, dosen UIT Lirboyo, yang juga bertindak sebagai moderator. Ia membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya menjaga tiga pilar ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah Basyariyah. Menurutnya, ketiga pilar tersebut menjadi fondasi penting dalam mempererat hubungan antarsesama, khususnya di kalangan santri. Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan momentum Hari Santri Nasional sebagai ajang refleksi untuk memperkuat semangat persaudaraan dan gotong royong di lingkungan pesantren, kampus, dan masyarakat luas.

Hadir sebagai narasumber, Ning Etna Iyyana Miskiyyah, Lc., M.Pd.I., pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah 2 Lirboyo Kediri, yang menyampaikan materi utama tentang makna sejati solidaritas. Ia menjelaskan bahwa solidaritas adalah rasa saling percaya (trust) yang menjadi dasar terbentuknya hubungan yang kuat dan harmonis di antara manusia.
Ning Etna juga mengutip sabda Rasulullah SAW:
“اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا”
(Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, yang satu bagian menguatkan bagian lainnya) (HR. Bukhari dan Muslim).
Ia menegaskan bahwa hadis tersebut menggambarkan hakikat umat Islam sebagai satu kesatuan yang saling menopang dan menguatkan, terutama ketika salah satu bagian sedang lemah.
Dalam paparannya, ia menjelaskan beberapa cara memperkuat solidaritas, antara lain menjalin kerja sama dalam kebaikan, menjaga komunikasi agar terhindar dari kesalahpahaman, serta memanfaatkan wadah bersama untuk mempererat hubungan dan berbagi manfaat. Ia menjelaskan bahwa solidaritas bukan hanya sekadar kebersamaan, tetapi juga memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang sangat mendalam.
“Ketika kita berbicara tentang solidaritas, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang rasa kekeluargaan, rasa persaudaraan, dan kepedulian. Dengan solidaritas, setiap individu akan merasa menjadi bagian dari satu keluarga besar umat Islam, apalagi yang sekarang ada di hongkong sesama muslim disana entah itu dengan latar belakang organisasi yg berbeda. Harusnya tidak merasa sendiri, karena semua saling menguatkan,” ujarnya.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Para peserta, sebagian besar Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong, mengangkat isu-isu aktual terkait tantangan menjaga solidaritas umat Islam di tengah arus informasi dan media sosial yang sering memicu kesalahpahaman. Mereka sepakat bahwa santri dan umat Islam perlu menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah pesantren dan ulama, sekaligus menangkal upaya adu domba yang mengancam persatuan umat.
Kegiatan UIT Ngaji edisi spesial Hari Santri Nasional ini menyimpulkan bahwa solidaritas merupakan nilai fundamental yang harus terus dipupuk dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah Basyariyah, umat Islam dapat menjaga keharmonisan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kepedulian sosial yang berkelanjutan.
Melalui ruang virtual, semangat santri lintas negara kembali dihidupkan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pesantren dan kampus Islam memiliki peran penting dalam menebarkan nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan. Sejalan dengan slogan UIT Lirboyo Kediri, “Dari Pesantren untuk Bangsa,” acara ini menunjukkan bahwa semangat santri tidak dibatasi ruang dan waktu, melainkan menyatu dalam rasa solidaritas yang kokoh dan tulus.










