Miss Communication dalam Dunia Kerja Jadi Sorotan UIT NGAJI Edisi Kelima

0
444
Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.10 (1)
image_pdfimage_print

KEDIRI – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri kembali menggelar program rutin UIT NGAJI (Ngobrol Santai Jamaah Internasional) bekerja sama dengan PCI Nahdlatul Ulama (NU) Hong Kong, pada Sabtu (11/10/2025). Kegiatan yang memasuki edisi kelima ini mengangkat tema “Miss Communication dalam Dunia Kerja” dan diselenggarakan secara daring mulai pukul 09.00–10.00 WIB atau 22.00–23.00 waktu Hong Kong.

Acara dibuka oleh Sekretaris PCI Fatayat NU Hong Kong, Eka Priyatna, dan dipandu oleh Miftachul Aula, M.I.Kom., Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIT Lirboyo Kediri, yang bertindak sebagai moderator. Program UIT NGAJI sendiri merupakan forum rutin setiap Sabtu malam yang menghadirkan dialog ringan namun sarat wawasan, khususnya bagi pekerja migran di luar negeri.

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.09

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UIT Lirboyo Kediri, Dr. H. Jauhar Fuad, M.Pd., yang hadir sebagai keynote speaker, menyoroti berbagai faktor penyebab terjadinya miss communication di dunia kerja. “Kesalahan komunikasi sering muncul karena beberapa hal, di antaranya faktor kelelahan saat menyampaikan pesan, pesan yang terlalu kompleks, pola komunikasi yang tidak konsisten, serta perbedaan persepsi,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya sikap husnudzon (berprasangka baik) dan kebiasaan melakukan klarifikasi dalam setiap proses komunikasi agar kesalahpahaman dapat diminimalisir.

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.11

Sementara itu, Ketua PSGA UIT Lirboyo Kediri, Amalia Rosyadi Putri, S.Kom.I., M.Med.Kom., C.PS., selaku narasumber utama, menjelaskan bahwa komunikasi merupakan fondasi utama dalam dunia kerja. “Namun sering kali, pesan yang disampaikan tidak diterima sebagaimana mestinya. Kondisi inilah yang disebut miss communication — sebuah kegagalan komunikasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik, bahkan menurunkan kinerja tim,” jelasnya.

Amalia memaparkan sejumlah penyebab terjadinya miss communication, seperti perbedaan persepsi dan budaya kerja, hambatan bahasa, asumsi tanpa klarifikasi, tekanan emosional, hingga penggunaan media komunikasi yang kurang tepat. Ia juga menegaskan bahwa dampak miskomunikasi bisa sangat serius, mulai dari penurunan produktivitas, meningkatnya konflik antar rekan kerja, menurunnya kepercayaan, hingga stres dan kelelahan emosional di tempat kerja.

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.10

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.10 (2)

Dalam paparannya, Amalia turut mengutip data dari beberapa penelitian internasional. “Menurut Harvard Business Review (2023), komunikasi yang buruk memperlambat kinerja tim dan membuat 86 persen karyawan merasa stres di tempat kerja. International Labour Organization (ILO, 2021) juga menyebut bahwa hambatan bahasa dan budaya menjadi penyebab utama konflik di kalangan pekerja migran,” ungkapnya. Ia menambahkan hasil penelitian French et al. (2018) yang menunjukkan bahwa masalah pribadi yang terbawa ke tempat kerja turut memperburuk miskomunikasi antar rekan kerja.

Sebagai solusi, Amalia menawarkan sejumlah strategi pencegahan, antara lain melakukan klarifikasi instruksi, memilih media komunikasi yang tepat, melatih kemampuan active listening, membangun empati lintas budaya, serta membiasakan pemberian umpan balik positif di lingkungan kerja.

Kegiatan yang diikuti sekitar 30 peserta, mayoritas merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong, berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Salah satu peserta, Isnani — anggota PCI Fatayat NU Hong Kong — menyampaikan pengalaman pribadinya tentang tantangan komunikasi di lingkungan kerja multikultural. Diskusi pun berlangsung hangat dan saling memperkaya perspektif peserta.

Melalui kegiatan UIT NGAJI ini, PSGA UIT Lirboyo berharap para pekerja migran dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya komunikasi efektif di dunia kerja serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, diharapkan tercipta lingkungan kerja yang lebih harmonis, produktif, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

Whatsapp image 2025 10 13 at 10.15.12

Comments are closed.