Di Malaysia UIT Lirboyo Reorientasikan Jejaring Intelektual Fikih Ulama Melayu-Nusantara

0
365
image_pdfimage_print

#KLCC Park 23 April 2024, Penguatan jejaring perguruan tinggi antar bangsa dewasa ini menjadi sebuah tuntutan yang tidak bisa tidak dilakukan. Tuntutan tersebut  tidak hanya berlaku bagi perguruan tinggi negeri, akan tetapi juga berlaku juga untuk perguruan tinggi swasta yang berlatar belakang pesantren seperti Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri, bentuk penguatan akademik tersebut berupa kerjasama yang berupa implementasi strategis mulai dari transfer kredit, in bound mobility, outbound mobility. Journal publication, internationa class, joint research, double degree dan international conference.  Pada tahun ini UIT Lirboyo merealisasikan peningkatkan semangat penguatan jaringan perguruan tinggi antar bangsa dengan mengadakan berbagai seminar internasional dan jont research, selain itu juga mengirim delegasi untuk melakukan implementasi kesepakatan kerjasama, diatara yang telah dilakuan adalah pengiriman delegasi ke Malaysia. Delegasi UIT Lirboyo pada kesempatan ini adalah direktur Program Pascasarjana yaitu Dr. Abbas Sofwan yang melakukan lawatan ke beberapa instansi swasta dan pemerintah di negara tersebut bersama dengan para Rektor dan Direktur Perguruan Tinggi Swasta Islam yang tergabung dalam APAISI (Asosiasi Pascasarjana Swasta Islam Indonesia) diantaranya UNISMA, UNU Nusa Tenggara. Universitas Al- Amin Prenduan, Universitas Islam Jakarta, Universitas al-Qalam Malang, Institut Agama Islam Ibrahimi Banyuwangi dan INSTIKA Guluk-Guluk Madura.

Penyerahan Cinderamata kepada Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP, Msi,

Kunjungan yang berlangsung selama dua hari tersebut telah mendapat restu dari Kedutaan Republik Indonesia di Kuala Lumpur, dimana para pimpinan perguruan tinggi tersebut mendapat sambutan dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP, Msi, yang juga merupakan alumnus dari salah satu perguruan tinggi di Malayasia, dalam sambutanna Prof. Firdaus menyatakan bahwa era ini peluang menjalin kerjasama dan kegiantan akademik internasional sudah menjadi kebutuhan seluruh perguruan tinggi, bahan interculture memerlukan mesin penggerak diantaranya adalah para civitas akademika perguruan tinggi, untuk itu Kedutaan Besar sebagain penjang tangan dari pemerintah Indonesia akan selalu mendukung sepenuhnya semua kegiatan akademik tersebut.

Kerjasama bersama Dra.Hj. Mimin Mintarsih selaku Ketua PCINU Muslimat Cabang Malaysia

Pada lawatan di Negara Jiran tersebut Direktur Pascasarjana UIT Lirboyo berkesempatan mengunjungi salah satu pesantren yang diasuh oleh Ustadz Rizal bin Jami;an Al-Hafidz sebagai Setia Usaha Agong Pertubuhan Nahdlatul Ulam Kuala Lumpur- Selangor, yang merupakan warga pribumi Malaysia. Pesantren yang berdiri sejak 2019 tersebut hingga saat ini telah dihuni oleh sekitar 52 santri putran dan putri yang sebagian besar adalah putra dan putri tenaga kerja asing di Malaysia. Pesantren tersebut telah diresmikan salah-satunya oleh ketua PNUKS (Pertubuhan Nahdhatul Ulama Kuala Lumpur Malaysia-Selangor) yang merupakan sebuah organisasi Islam yang telah diakui oleh Kerajaan Malaysia sebagai payung hukum atas segala aktifitas yang diadakan oleh PCINU Malaysia. Warisan pendidikan Islam yang terus senantiasa abadi dan lestari di negara-negara Islam hingga saat ini adalah pesantren, begitu juga dengan keberadaan pesantren al-Nahdhoh yang berkomitmen untuk mendidik putra putri muslim menjadi generasi yang menjadi penegak ajaran Agama Islam di masa depan.

Dr. Abbas Sofwan menyampaikan motivasi kepada para santri pesantren Al Nahdhoh Selangor Malaysia

Memorandum of Understanding antara Pesantren al-Nahdoh dengan UIT Lirboyo menyepakati untuk melakukan Pengabdian Masyarakat antar dua negara dan pengiriman pelajar, hal ini diakui oleh Ustadz Khoirul Umam salah satu pengurus senior di pesantren al-Nahdhoh bahwa Lirboyo selain dikenal sebagai pesantren tertua di Nusantara juga merupakan pesantren yang dikenal dengan Ilmu Fiqih, untuk itu para pengelola pesantren tersebut berkeinginan kuat untuk mengirimkan para santrinya meningkatkan wawasan khazanah keilmuan Islam yang sangat adaptif dengan perubahan zaman tersebut. Selain untuk medapatkan barokah ketersambungan sanad keilmuan dari para masyayikh di Lirboyo, Pesantren al-Nahdhoh juga sangat berharap bahwa para civitas akademika UIT Lirboyo yang tentu merupakan bagian dari Persantren Liboyo agar melakukan pengabdian dalam rentang waktu yang cukup memadai dalam membentuk dan membangun keilmuan santri yang dapat direalisasikan dalam bentuk pengabdian masyarakat.

Prof. Azam Ministry of Higher Education Malay

Setelah berpamitan dengan para pengurus pesantren al-Nahdhoh, delegasi UIT Lirboyo menuju ke Wilayah Putrajaya yang merupakan pusat admistrasi Malaysia yang menggantikan Kuala Lumpur untuk melakukan pertemuan di Ministry of Hinger Education of Malaysia. Professor Dr. H. Datto Shushilil Azam Bin Shuib yang merupakan Direktur Pendidikan Tinggi Negara Malaysia menyatakan bahwa kesempatan untuk kerjasama antara Indonesia dan Malaysia adalah sebuah keniscayaan kodrati karena antara kedua negara tersebut memiliki hubungan sejarah, ras, bahasa dan bahkan kekeluargaan yang tidak dapat dipisahkan, karena sejak lama para generasi muda Malaysia menjadi santri di pesantren-pesantren terkemuka di Indonesia, untuk itu dengan terbukanya semangat penguatan kerjasama antar dua negara tersebut, Prof Azam berharap besar agar Pesantren Lirboyo memberikan kesempatan lebih besar lagi kepada bumi putra Malayasia untuk menimba ilmu dan nyantri.

UIT Lirboyo dalam mewujudkan misi meraih dimensi global pada lawatan ini berkesempatan untuk melakukan presentasi dan join dalam bentuk book chapter dengan Universitas Kebangsaan Malaysia yang menempati posisi ke-tiga dalam QS Word tahun 2024. Di ruang pertemuan Fakultas Studi Islam Dr. Abbas Sofwan bersama dengan para delegasi dari APAISI memberikan sumbang ide peluang untuk menjalin Joint Research dalam mengungkap sejarah dan genealogi Fikih Mazhab Syafi’i di semenanjung Malaya yang merupakan bagian dari Nusantara di Abad 17-18, karena genealogi keilmuan khususnya fiqih mazhab Syafi’I memperlihatkan adanya persinggungan yang memiliki keserupaaan bahan keserasian yang menarik untuk dijadikan focus kajian, disisi lain khazanah tersebut akan menjadi rujukan dalam menganalisa corak dan elastisitas ijtihad para ulama terdahulu dalam beradaptasi dengan kondisi socio cultural masyarakat Nusantara, agar para peneliti abad ini dapat mengambil point point penting sebagai tolok ukur mengembangkan ijtihad modern tentang moderasi Islam. Selain itu penelusuran genealogi ulama semenanjung melayu dan nusantara akan lebih menemukan keontentikan data jika dikaji oleh penduduk aslinya sebagai ­participant as observer.  Dinamika wacana inteletktual Fikih di Dunia Melayu-Nusantara tentang jaringan ulama mempunyai pengaruh dan dampak yang signifikan.

Comments are closed.