Partisipasi Dialektis Enam Sivitas Uit Lirboyo Kediri dalam Gelaran ANCOMS 6 dI UINSA Surabaya

Empat dosen dan dua mahasiswa Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri berpartisipasi aktif dalam kegiatan Annual Conference Muslim Scholars atau yang biasa disebut AnComs. Dimana pada tahun 2024 ini AnComs ke-6 mengambil tema Enhancing Islamic Values Through Local Wisdom in Keeping Harmony and Tolerance. Adapun pelaksanaannya tanggal 15-16 Oktober 2024. Dimana sesi pembukaan dilaksanakan di Lt. 3 Tower Ismail Ya’kub UINsa Surabaya, dan pararel session di Santika Hotel Gubeng.
Dr. KH.M. Hasan Ubaidillah,MSI dalam laporannya menyampaikan, terdapat 1000-n abstrak yang submit dan hanya 200 terpilih untuk ditampilkan dalam pararel session. Agenda Ancoms yang mampu berkelanjutan sampai tahun keenam ini melibatkan sinergi Kopertasi IV dengan kampus binaan dibuktikan dengan hadirnya Forpim dalam pembukaan Ancoms. Semoga kedepannya menjadi semakin lebih baik.
Prof. Akh. Muzakki, M.Ag.PHd. dalam sambutannya menyatakan, tiga kata kunci dalam tema Ancoms ini adalah nilai Islam, Kearifan Lokal, dan Toleransi dan Harmoni. Jika diperas menjadi sebuah bentuk moderasi beragama yang unik dan menarik. Sehingga perlu ditampilkan, promosikan, mengingat perkembangan peta politik global dewasa ini tengah terjadi dehumanisasi di kawasan Timur Tengah. Dengan memahami ketiganya, semoga membawa wajah dunia yang majemuk kedepan menjadi lebih baik tanpa memandang perbedaan yang ada.
Prof.Dr. Zaid Ahmad dari Principal Fellow Institut Islam Hadhari Universiti Kebangsaan Malaysia selaku pembicara pertama menyampaikan bahwa, kenyataan di dunia yang terdiri dari kemajemukan, pluralis, diversity, multikultural, multi-etnik, merupakan suatu hal yang alamiah dan disebutkan dalam Qur’an. Karenanya harus disadari dan dipahami dengan baik mengingat kita hidup dalam keragaman yang nyata.
Dr. KH. Zulfa Mustofa menyampaikan bahwa Islam Nusantara adalah kemampuan dan kearifan para ulama di Indonesia menampilkan wajah Islam yang akomodatif dan moderat. Mengingat Islam Nusantara bukan Islam anti Arab, akan tetapi Islam Nusantara lahir dari pemikiran ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah Annahdliyyah dengan kekhususan atau ciri-ciri yang unggul dan pokok ajaran yang mengedepankan Tasamuh, Tawasuth, I’tidal, Tawazun, dan juga Ta’awun.
Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M.Ag. menyatakan, berbicara local wisdom dan akar sejarah UINSA Surabaya tidak bisa lepas dari sosok Sunan Ampel yang meskipun bukan orang Jawa, tapi mampu memahami dan menjadi orang Jawa. Sunan Ampel membuat diksi baru tentang sembahyang yang secara bahas menyembah Sang Hyang, namun digeser maknanya menjadi praktik sholat. Musholla sebagai tempat sholat disebut dengan langgar. Dan bentuk-bentuk menanamkan spirit Islam tanpa merubah kulitnya. Hal inilah yang membuat Islam dahulu dikenal lebih cepat, dikenal dengan baik, dan tidak menimbulkan pertentangan yang keras karena sasaran utamanya adalah isinya.
Pada pararel session, Dr. M. Arif Khoirudin, M.Pd yang juga Dekan Fakultas Tarbiyah UIT Lirboyo menyampaikan artikel dengan judul Strategi FKUB Kota Kediri dalam Membangun Harmoni dan Toleransi melalui Tranformasi Pendidikan. Dalam hal ini menurutnya, FKUB Kota Kediri berkontribusi menjaga toleransi dan harmoni di kota Kediri dengan kegiatan yang terintegrasi dalam dunia pendidikan.
Dr. Tri Prasetyo Utomo, M.Pd selaku Kaprodi Pascasarjana PAI UIT Lirboyo menyampaikan artikel Strategic Management of Strengthening Religious Moderation Setting of Cultural Acculturations in Pancasila Kampung. Menurutnya, diperlukan manajemen strategi yang baik untuk mengawal moderasi di Gaprang Blitar mengingat perkembangan zaman dewasa ini dengan adanya kecanggihan teknologi mampu mengikis budaya toleran yang sudah ada. Tentunya diperlukan leader yang baik dan akomodatif serta memayungi semua pihak.
Naila Muna, M.HI selaku Kaprodi HKI UIT Lirboyo menyajikan artikel dengan judul Kontruksi Tradisi Jujur pada Perkawinan Generasi Milenial Masyarakat PALI Sumatra Selatan. Tradisi jujur atau pemberian pihak lelaki ke perempuan menjadi kuat dan telah terjadi sosialisasi lintas generasi. Menyebabkan masyarakat menganggapnya sebagai kebiasaan yang harus dijalankan dan kurang baik apabila ditinggalkan. Hal ini disatu sisi merupakan bentuk apresiasi dan konsep menghargai kaum perempuan dimana selaras dengan nilai-nilai dalam Islam.
Dr. Moh. Irmawan Jauhari, M.Pd.I dosen pascasarjana UIT Lirboyo menyampaikan artikel dengan judul Tolerance Model in Forming Religious Harmony in Bedali Village Ngancar Kediri. Dimana proses habituasi toleransi terlembagakan dengan baik menjadi kebiasaan. Para tokoh aktif dalam habituasi toleransi untuk mengarahkan masyarakat menjadi lebih aplikatif akan indikator toleransi. Habituasi toleransi tersebut diwariskan secara turun temurun dan menjadi sebuah kebiasaan yang normal dan dijaga dari generasi ke generasi.
Dwita Nurulita mahasiswa PAI Pascasarjana UIT Lirboyo menyampaikan artikel dengan judul Implementasi Pendidikan multikulturaslisme dalam interaksi social santri dalam perbedaan kriteria kesukuan di Pondok Pesantren Queen Al-Falah Ploso Mojo Kediri., Hasil penelitiannya menyebutkan bila pelaksanaan pendidikan multikultural dilakukan oleh pengurus dan seluruh santri Pondok melalui kegiatan untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan terhadap sesama dalam perbedaan budaya dan bahasa serta menjunjung tinggi rasa nasionalisme.
Nurul Atiqoh mahasiswa PAI Pascasarjana UIT Lirboyo membawakan artikel dengan judul Religious Moderation in the Practice of Hubbul Wathan minal Iman at te Rambu Solo’ Traditional Ceremony in Lembang Rumandan Tana Toraja. Hasil penelitian menyatakan bila, Upacara Adat Rambu Solo’ di Lembang Rumandan, Tana Toraja Pada hakikatnya dapat diarahkan untuk memberi spirit baru dan dikontruksi secara filantropi demi peningkatan kesejahteraan serta kualitas kaum nasionalis dalam upacara rambu solo’. Upaya revitalisasi pemahaman budaya patut senantiasa diperbaruhi dengan baik agar masyarakat dapat terhindar dari egoisme dan pra-paham yang negatif terhadap budaya. Adanya konsep hubbul wathan minal iman merupakan ikhtiar menyadarkan masyarakat bahwa pentingnya menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang. selain itu juga sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air dan menjaga keutuhan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.








